0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Priyo Hadi Sutanto Sejahtera Berkat Filosofi Tiga Pilar

Priyo Hadi Sutanto (dok.pribadi)

Solo — Kesuksesan yang dimiliki seseorang ternyata juga dipengaruhi oleh filosofi atau keyakinan hidup yang dimilikinya. Paling tidak hal tersebut dialami oleh Priyo Hadi Sutanto, Komisaris PT Tiga Pilar Sejahtera Food.

Ditemui oleh Timlo.net, di Black Canyon Coffee Solo Paragon Mall, Jumat (6/9) malam, Priyo menceritakan bahwa ada sebuah alasan kenapa dia menamakan perusahaannya yang bergerak di bidang consumer goods dinamakan Tiga Pilar Sejahtera.

Priyo lahir di Solo, 29 Oktober 1950 dari pasangan totok China. Priyo sendiri memiliki 4 saudari. Sang ayah, Tan Pia Sioe memiliki sebuah perusahaan keluarga yang memproduksi bihun jagung dengan nama Bihun Cap Cangak Ular di Palur, Sukoharjo yang didirikan pada tahun 1959.

Sejak kecil, Priyo selalu diminta mengikuti sang ayah tinggal di perusahaan. “Mungkin karena saya satu-satunya anak cowok di dalam keluarga. Dalam budaya Cina, anak lelaki adalah penerus marga. Sementara anak perempuan saat sudah menikah, keturunannya akan mengikuti marga sang suami,” kata Priyo.

Pria yang menjabat sebagai Ketua Bidang Investasi dan Hubungan Luar Negeri Kadin Solo ini mengaku bahwa sang ayah tidak pernah mengajari dia bisnis secara langsung. Tapi selain diminta tidur di perusahaan, semenjak kecil Priyo kerap diminta untuk berperan sebagai penerjemah antara sang ayah dengan para pegawai karena kendala bahasa. Dari peran sebagai penerjemah itulah, keterampilan bisnis Priyo terasah.

Pada tahun 1978, Tan Pia Sioe meninggal sehingga posisinya secara otomatis digantikan oleh Priyo yang saat itu berusia 27 tahun. Walaupun dia diminta menggantikan sang ayah pada waktu dia masih muda, tapi dia tidak canggung karena sudah siap semenjak kecil.

Dia lantas mendirikan PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS). Nama ini dipilih oleh karena beberapa alasan. Pertama, nama tersebut memiliki inisial yang sama dengan sang ayah yaitu Tan Pia Sioe. Kedua, semasa kecil Priyo dididik untuk memegang teguh budaya Cina. Dan karena perannya sebagai penerjemah dan kebiasaannya tidur di perusahaan semasa kecil membuat Priyo memiliki interaksi yang dekat dengan budaya Jawa. Hal ini membuat dia menemukan sebuah filosofi yang merupakan perpaduan antara budaya Jawa dan Cina.

Filosofi ini terdiri dari tiga pilar yang bila disinergikan dalam hidup seseorang maka orang tersebut akan sejahtera dalam hidupnya. ”Dalam bahasa Jawa , filosofi itu berbunyi sing gawe urip, sing ngurip-urip dan sing nguripi,” terang Priyo.

Sementara dalam bahasa Indonesia ketiganya dengan singkat diterjemahkan menjadi Allah, Aku dan Alam. Dia menjelaskan bahwa sing gawe urip (yang menciptakan kehidupan) itu adalah Tuhan Yang Maha Esa, sementara sing ngurip-ngurip (yang mencari mata pencaharian) adalah aku (sang manusia) dan sing nguripi (yang memberi kehidupan) adalah alam.

Pria berusia 63 tahun itu menerangkan bahwa bila manusia ingin sejahtera maka dia harus mengutamakan Sang Pemberi Hidup dengan mengamalkan perintah-perintahNya dalam kehidupan dan menjaga keharmonisan hidup dengan alam.

Dia menceritakan bahwa dalam perjalanan hidupnya sebagai seorang pebisnis, tiga pilar inilah yang mampu membuat dia menerobos kesulitan-kesulitan yang ada dan meraih peluang-peluang yang akhirnya membuat perusahaannya besar seperti sekarang ini.

Editor : Irawan Mintorogo

Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge