0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kemarau, Petani Andalkan Sumur Pantek

Kasno (60), pemilik lahan pertanian di desa saradan nekat mengeruk permukaan sumur sedalam 9 meter demi untuk mendapat air untuk mengaliri sawah. (dok.timlo.net/agung)

Sragen — Menghadapi musim kemarau, Sejumlah petani Desa Guorejo, Kecamatan Karangmalang dan Desa Patihan, Kecamatan Sidoharjo membuat sumur bor alias sumur pantek.

Tidak hanya itu, sejumlah petani nekat mengeruk permukaan sumur hingga mencapai kedalaman 9 meter di bawah permukaan tanah.

Petani berharap, permukaan air semakin dekat dengan pipa mesin pompa diesel dapat mengeluarkan air lebih banyak. Keberadaan sumur pantek menjadi satu-satunya alternatif untuk memenuhi kebutuhan air bagi petani selama musim kemarau.

Kasno (60), petani asal Desa Saradan, Kecamatan Karangmalang mengatakan, dampak musim kemarau sangat dirasakan sebagian besar petani. Sebab hampir sebagian besar sumur pantek milik petani mengalami penurunan debit air.

Untuk menyiasati hal itu, sebagian besar petani memilih memotong permukaan pipa untuk mendekatkan permukaan air. Sementara sebagian petani yang memiliki modal cukup, pilih membuat sumur baru dengan kapasitas air yang lebih besar.

“Kalau tidak berani nekat, tanaman yang sudah terlanjur ditanam bisa mati dan bakal semakin rugi,” ujar Kasno ketika ditemui wartawan belum lama ini.

Ia menambahkan, pada saat musim kemarau, sumur pantek menjadi satu-satunya andalan sumber air bagi para petani. Sebab air irigasi dipastikan tidak lagi mengalir. Karena jumlah petani yang mempergunakan sumur pantek semakin banyak, otomatis aliran air terus mengalami penurunan.

“Selama musim kemarau, sumur pantek selalu difungsikan secara bergiliran. Karenanya tidak heran sebagian sumur ukuran 21 meter sudah ada yang macet,” katanya.

Petani lain, Parjoko (42), warga Desa Guorejo, mengatakan pada musim kemarau petani seringkali mengalami gagal panen. Sebab lahan pertanian di kawasan tersebut sebagian besar mengandalkan pasokan air dari aliran irigasi.

Menurut Parjoko, karena stok air dari waduk semakin terbatas, otomatis banyak lahan pertanian yang tidak kebagian air. Ia berharap keberadaan sumur bor yang dibuat dengan dana lebih dari Rp 25 juta itu diharapkan mampu meningkatkan produktifitas pertanian.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge