0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Biar Irit, Petani Sedot Air Gunakan Gas Elpiji

Petani menyedot air dengan mesin penyedot berbahan gas LPG (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Musim kemarau tahun ini, petani tadah hujan di wilayah Waduk Bade Klego Boyolali bisa menanam padi. Pasalnya selama musim kemarau, sebagai lahan tadah hujan, petani hanya bisa menanami lahanya dengan tanaman palawija. Untuk bisa menyedot air sumur pantek, petani menganti bahan bakar bensin dan solar dengan gas elpiji. Penggunaan gas elpiji dinilai lebih irit dibandingkan menggunakan bensin dan solar.

Penggunaan gas elpiji dilakukan petani tadah hujan sejak enam bulan ini. Uji coba penggunaan ini awalnya hanya dilakukan satu petani. Namun karena berhasil, akhirnya seluruh petani di Wates Bade Klego beralih menggunakan gas elpji untuk menyedot air sumur pantek. Penggunaan gas elpiji hanya membutuhkan satu selang kecil yang dihubungkan dari lubangan tabung gas elpiji dengan kotak generator penggerak letupan mesin diesel.

“Kita pancing dulu dengan bensin, begitu panas, katup bensin kita tutup dan katup gas elpiji kita buka, 1 tabung gas elpiji 3 kilogram bisa digunakan untuk 10 jam lebih, sedangkan bila menggunakan bensin kita butuh 7 – 8 liter,” ungkap Maryono ditemui di Bade, Rabu (11/9).

al senada juga diungkapkanMisrin, dimana untuk perbandingkan,untuk menyedot air mulai pukul 05.00-17.00 WIB, setidaknya dibutuhkan 20 liter bensin dengan mesin diesel ukuran 5,5 Pk. Namun jika menggunakan bahan bakar gas elpiji ukuran 3 kg mulai pukul 05-17.00 hanya dibutuhkan 3 tabung gas saja.

“Perbandingan jauh, menggunakan gas elpiji 3 kilogram hanya butuh biaya Rp 45 ribu , sedangkan jika menggunakan bahan bakar bensin, hitunganya ya Rp 6.500 kali 20, jadi total Rp 130 ribu. Jelas selisih jauh,” imbuh Misrin.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge