0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

40% Perajin Tahu Tempe di Soloraya Stop Operasi

PRODUKSI TAHU-Pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) tengah memroduksi tahu di kawasan Mojosongo (Dok. Timlo.net/Andi Penowo)

Solo – Melambungnya harga kedelai impor dalam beberapa pekan terakhir, rupanya benar-benar telah memukul industri yang bersinggungan langsung dengan komoditas tersebut. Alhasil, sekira 40 persen perajin tahu dan tempe di Soloraya terpaksa menghentikan aktivitas usahanya lantaran tak kuat menanggung beban produksi.

Seperti dikatakan Ketua Badan Koordinasi Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Kopti) Soloraya, Sudiro, saat ini banyak perajin tahu dan tempe berhenti berproduksi. Tercatat ada sekira 40 persen dari total perajin di Soloraya yang sudah tak lagi menjalankan usahanya selama September 2013.

“Banyak yang dalam satu bulan ini berhenti berproduksi, terutama yang skala usahanya 25 kilogram ke bawah,” jelasnya kepada wartawan, Selasa (10/9).

Kondisi ini jelas mengkhawatirkan, mengingat industri rumah tangga tersebut termasuk sektor usaha padat tenaga kerja. Praktis, jika pemerintah tak lekas menstabilkan kenaikan harga kedelai impor, bisa dipastikan akan banyak perajin tahu dan tempe yang gulung tikar.

Efek domino dari kondisi tersebut tentunya akan meningkatkan jumlah pengangguran. Mengingat di Soloraya saja, menurut Sudiro, saat ini ada sekira 3500 perajin tahu dan tempe yang menggantungkan ekonominya dari industri tersebut.

Bahkan, jika ditelisik lebih jauh ada sekira 17.500 tenaga kerja yang terlibat aktif dalam industri tahu dan tempe. “Oleh sebab itu, kami meminta pemerintah untuk segera mengambil sikap mengendalikan harga kedelai,” seru dia.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge