0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kisah Cinta Pasoepati dan Bonek Terpampang di Stadion Manahan

pasepati dan bonek. (Dok.Timlo.net/ Aryo)

Solo — Rivalitas antar suporter sepak bola di Indonesia bisa dikatakan luar biasa. Tak jarang rivalitas yang berawal dari fanatisme berujung pada anarkisme. Jatuh korban luka-luka hingga tewas, sering menjadi pemandangan suporter sepak bola di Indonesia. Namun, cerita menarik datang dari pendukung fanatik Persis Solo Laskar Pasoepati dan Persebaya Surabaya Bonekmania.

Belum lama ini kericuhan mewarnai laga tuan rumah Persis Solo melawan PSS Sleman. Sweeping “suporter Sleman” yang dilakukan Pasoepati pun berujung pada jatuhnya tujuh korban luka-luka. Namun hanya berselang tiga hari, pemandangan Stadion Manahan berubah dengan penuh damai. Ya, ribuan Bonekmania (suporter Persebaya) memenuhi tribun selatan untuk memberikan dukungan kepada Bajul Ijo – julukan Persebaya.

Rasa cemas yang dikhawatirkan warga Solo terkait kedatangan Bonek, hilang seketika. Kedatangan Bonek ke Solo, Minggu (8/9) kemarin mendapat apresiasi dari Pasoepati dan warga Solo. Kebrutalan Bonek yang dulu menjadi stigma para arek-arek Surabaya ini luluh dalam lawatannya ke Solo. Presiden pertama Pasoepati Mayor Haristanto pun menunjukkan kisah cinta antara Pasoepati dan Bonek melalui memori pemberitaan surat kabar.

Ya, kliping dari beberapa media cetak di tahun 2000 silam yang memberitakan persahabatan Pasoepati-Bonek, kini terpampang di satu sudut Stadion Manahan, Selasa (10/9). Mayor yang memiliki ide tersebut memajang kliping koran berukuran jumbo menghiasi pagar tribun VIP Stadion Manahan, agar baik Pasoepati dan Bonek selalu mengingat memori indah keduanya.

Mayor menceritakan, awal perjalanan persahabatan Pasoepati dan Bonek di mulai pada 13 Maret 2000. Ribuan Bonek disambut baik di Stadion Manahan oleh Pasoepati yang baru seumuran jagung kala itu. Kemudian rasa cinta kedua suporter yang masing-masing membela Pelita Solo dan Persebaya, berlanjut pada 6 April di tahun yang sama. Sekitar 3500-an anggota Pasoepati “nekat” memerahkan kota Surabaya dipimpin langsung oleh Mayor yang saat itu masih berstatus koordinator Pasoepati.

Sebuah Kereta Luar Biasa dengan 12 gerbong disewa oleh Pasoepati untuk mengampanyekan slogan Pasoepati saat itu yakni “from Solo with love”, membuat Bonek dan warga Surabaya tercengang. Stadion Gelora Tambaksari Surabaya kedatangan ribuan Pasoepati dengan penuh kedamaian. Bahkan Pasoepati membawa oleh-oleh berupa Bunga yang diberikan kepada aparat keamanan yang menjaga pertandingan. Alhasil, pertandingan berjalan lancar dan aman hingga Pasoepati pulang ke Solo.

“Bisa dikatakan baru Pasoepati yang mampu mendatangkan 3500 anggotanya ke Tambaksari (markas Persebaya). Karena tujuan Pasoepati waktu itu adalah bertamu ke rumah orang lain dengan sopan dan mengusung misi perdamaian antar suporter,” terang Mayor di sela-sela melihat klipingnya, Selasa (10/9) siang.

“Waktu itu ya kami mendapat caci maki suporter tuan rumah, lantas kami balas dengan tepuk tangan semua anggota. Karena kami harus sadar bahwa Pasoepati adalah tamu yang ibaratnya sedang berkunjung ke rumah orang,” tambahnya sembari mengingat-ingat pemandangan 13 tahun yang lalu.

Mayor menjelaskan aksinya dengan menempelkan kliping jumbo tersebut, adalah agar keduanya selalu mengingat persahabatan antara Pasoepati dan Bonek. Bahkan adanya insiden perang batu antara Bonek dan warga Solo 2010 lalu, menurut Mayor sudah dikubur dalam-dalam untuk tetap menjaga perdamaian tersebut.

“Ini bukti bahwa Pasoepati dan mereka (Bonek) sudah akrab sejak belasan tahun lalu. Namun hingga saat ini kita masih akrab dan saling mendukung. Untuk itulah sekarang mengapa antar suporter yang jarak geografisnya dekat malah nggak bisa akur,” imbuh Mayor.

“Kliping ini akan terpampang terus sampai laga final Divisi Utama Persebaya melawan Perseru akhir pekan ini,” pungkasnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge