0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Tak Laku Jual, 24 Kios Pasar Ampel Dibiarkan Mangkrak

Sejumlah kios di Pasar Ampel, Boyolali dibiarkan mangkrak (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Sebanyak 24 kios di Pasar Ampel, Boyolali dibiarkan mangkrak. Kios tersebut dibiarkan kosong karena tidak laku dijual. Kios yang kosong berada di lantai satu dan lantai 3 sebelah utara dan selatan. Menurut sejumlah pedagang, pembangunan dan penataan kios pasar pada 2005-2006 lalu, mengakibatkan kondisi pasar di bagian tersebut menjadi sepi.

“Pembeli malas untuk naik ke lantai tiga dan enggan berbelanja ke kios lantai satu di bagian pinggir pasar. Jika sudah mendapat barang yang dicari di lantai satu dan dua, bagian tengah pasar, mereka tidak menelusuri bagian pasar yang lain,” ungkap Suparmi, pedagang klontong yang berjualan di lantai tiga Pasar Ampel, Selasa (10/9).

Diakui, sebelumnya ada beberapa pedagang yang sempat menempati kios-kios di lantai satu tersebut. Namun karena sepi pembeli, akhirnya hanya bertahan sebentar dan pindah Suparmi sendiri mengaku, akibat sepinya pembeli di lantai tiga, mengalami penurunan omzet yang signifikan. Dulu, ketika bangunan pasar belum direnovasi atau belum dibuat bertingkat, omzetnya dapat mencapai Rp 2 juta per hari. Namun saat ini omsetnya hanyaa sekitar Rp 300 ribu per hari.

Hal senada juga diungkapkan pedagang pakaian di lantai satu, yakni Sarif (47). Akibat tatanan pasar berubah setelah direnovasi 2006 lalu, kondisi pasar yang ada di jalur utama Solo-Semarang ini, tidak seramai dulu lagi. Menurutnya, pasar hanya ramai di lantai satu dan dua di bagian tengah. Sementara di bagian lainnya sepi. Omzet pedagang banyak yang menurun.

“Sejak pasar dibangun bertingkat, banyak pintu masuk, keluar. Tidak seperti dulu yang hanya ada pintu di depan dan belakang. Penataan pasar ini membuat lalu lalintas pembeli di dalam pasar tidak merata,” ungkapnya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Ampel, Widodo saat dikonfirmasi menjelaskan, pihaknya sudah berupaya menawarkan kios, toko dan los itu kepada para pedagang dan berbagai pihak yang ingin membuka usaha di pasar. Namun karena kondisi ekonomi yang menurutnya belum kondusif serta lokasi yang tidak mendukung, menjadi kendala tersendiri.

Diakui Widodo, pada hari biasa, kondisi pasar memang relatif sepi. Banyak pedagang yang mengeluh. Namun jika hari pasaran, setiap Kliwon, kondisi pasar ramai.

“Kalau pas pasaran Kliwon, baru pasar Ampel ramai,banyak pedagang dan pembeli yang berdatangan,” tandasnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge