0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Spekulan Disinyalir Bermain di Balik Mahalnya Kedelai

Pedagang kedelai. (Dok.Timlo.net/ Aris Arianto.)

Solo —  Kalangan pelaku usaha kedelai yang tergabung dalam Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Kopti) mensinyalir mahalnya harga kedelai impor di pasaran akibat ulah para spekulan.

Para pemain besar kedelai diduga mencoba mengambil untung atas kondisi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat dengan menaikkan harga kedelai di pasaran. Seperti dikatakan Ketua Kopti Sragen, Wagino, mahalnya harga kedelai impor saat ini tidak lepas dari ulah para spekulan.

Mereka berupaya memainkan harga di tengah fluktuasi rupiah yang tidak menentu. Saat ini, harga kedelai yang tembus di kisaran Rp 9400 perkilogram hingga Rp 10 ribu perkilogram dirasa sangat memberatkan perajin tempe.

Ia berharap, pemerintah segera menuntaskan masalah ini agar tidak mematikan industri terkait. Mengingat saat ini saja sudah ada beberapa perajin tahu dan tempe yang terpaksa menghentikan usahanya, akibat tak kuasa menanggung biaya produksi.

Sekretaris Kopti Karanganyar, Djoko Suryono, menambahkan salah satu solusi yang selayaknya dilakukan pemerintah, yakni menetapkan regulasi tata niaga kedelai. Distribusi komoditas tersebut hendaknya melalui satu pintu lewat Perum Badan Urusan Logistik (Bulog), sehingga harganya bisa terkendali.

“Kopti mengusulkan untuk pengendalian harga sebaiknya pemerintah turun tangan. Sebenarnya dari sisi stok tidak ada masalah, cuma keinginan kami ada keseragaman harga,” pungkas dia di hadapan wartawan, Selasa (10/9).



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge