0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sejumlah Pemuda Nias Lompat Batu di Plasa Sriwedari

Lompat Batu Nias. (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Ribuan penonton berdecak kagum saat sejumlah pemuda dari Pulau Nias, Sumatera Utara mampu melompati batu setinggi 2,1 meter yang diletakkan di area Plasa Sriwedari, Minggu (8/9). Diiringi musik bernuansa magis, bak pemandangan yang terdapat dalam mata uang Rp 1.000, mereka meloncat dengan sangat mudah. Padahal batu yang disusun tergolong tinggi.

Ketua Panitia Pagelaran Budaya Nias, Herman Harefa mengatakan, pihaknya sengaja mengenalkan kebudayaan dan kesenian dari Tanah Nias. Selama di Solo dalam rangka sarasehan nasional yang diikuti bupati dan walikota se-Kupulauan Nias, Jumat – Minggu (6-8/9), pihaknya menyempatkan diri mempersembahkan kebudayaan yang begitu terkenal pada warga Kota Bengawan.

“Seperti Hombo Batu. Yang mempunyai makna, membiasakan diri bisa melompati tantangan. Karena dulu, setiap kampung ada pagar tinggi. Jika menyerang musuh, kita harus melompat,” jelasnya.

Sementara, Ketua ‘Steering Commitee’, Nevos Daeli mengatakan lompat batu Nias (Hombo Batu) merupakan tradisi di kepulauan Nias yang wajib diikuti oleh setiap pemuda Nias. Lompat batu Nias telah menjadi tradisi sejak ratusan tahun lalu. Tradisi lompat batu Nias memiliki makna filosofis sebagai penakar keberanian dan kedewasaan pemuda. Untuk itu, pemuda Nias harus sukses melompati batu tersebut tanpa menyentuh menyentuh batu.

Selain lompat batu Nias, juga ditampilkan sejumlah pagelaran seni budaya Kepulauan Nias. Di antaranya tari Baluse (tari Perang), tari Ya’ahowu, tari Sekapur Sirih, tari Famodogo Omo, dan lainnya.

“Atraksi seni budaya Nias ini untuk mengenalkan masyarakat Solo dan sekitarnya mengenai budaya Nias. Bahwa ternyata kebudayaan di negara ini sangat beragam. Banyak daerah yang layak menjadi destinasi wisata karena selama ini tujuan wisata masih di seputar Jawa dan Bali,” ujar Nevos.

Di tempat yang sama, salah seorang penonton, Dewi Martina (26) mengaku terpukau dengan tradisi leluhur pulau Nias, Sumatera Utara tersebut. Tak ketinggalan, dia mengabadikan aksi yang disajikan dari para pemuda dan pemudi pulau Nias dengan menggunakan telepon genggamnya. Bersama tiga rekannya, dia mengapresiasi atas upaya pelestarian budaya dan kesenian yang kembangkan generasi mudanya. Menurutnya, hal tersebut bisa dilakukan oleh Pemkot Solo untuk menampilkan kesenian di Kota Bengawan di berbagai daerah.

“Kalau anak muda di Nias bangga terhadap warisan leluhurnya, kita juga. Siapa lagi jika bukan generasi muda yang bisa mempertahankan budaya ini,” akunya penuh semangat.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge