0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Banyuwangi Ethno Carnival Usung The Legend of Kebo-keboan

Banyuwangi Ethno Carnival (Dok. Merdeka.com)

Timlonet — Sebagai daerah berjuluk the Sunrise of Java, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur ingin pamer kekayaan budaya yang dimilikinya. Untuk kali ketiga, pagelaran Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) digelar hari ini, Sabtu (7/9), di tanah Using tersebut.

Event karnaval etnik ini, sekaligus menandai dimulainya Banyuwangi Festival yang akan berlangsung selama bulan September hingga Desember mendatang, berisi beragam acara, mulai karnaval etnik, sport-tourism, jazz pantai, festival batik, hingga perhelatan berbagai kesenian tradisional.

Karnaval yang pada 2012 lalu, sempat diarsiteki penggagas Jember Fashion Carnaval, Dinand Fariz. Saat event BEC yang kedua itu, mengambil tema Barong Using dan sebagai konsultan BEC-nya, Dinand Fariz.

Selanjutnya, sukses pada BEC 2011 dan 2012 itu, Pemkab Banyuwangi ingin mengarsiteki even itu sendiri, yang sekaligus sebagai pembuka rangkaian HUT Banyuwangi ke 242 tersebut. Tahun ini (2013), BEC mengambil tema “the Legend of Kebo-keboan.”

Menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, pada even BEC ini, terdapat tiga sub tema yang diangkat, sekaligus menandai defile-defile, yaitu Kebo Geni yang menandakan semangat dan jiwa pemberani, Kebo Bayu Tirta sebagai penanda kedamaian, dan Kebo Bumi (isyarat kesuburan).

Ada sekitar 300 talent berparade di Jalan Susuit Tubun, Banyuwangi. Peserta karnaval berjalan sepanjang 3 kilometer mengelilingi kota Banyuwangi. Para talent berjalan diiringi musik etnik khas Banyuwangi yang dikolaborasikan dengan musik modern.

Ribuan warga dan wisatawan juga ikut memadati jalanan yang disulap menjadi catwalk untuk para peserta karnaval. “Karnaval adalah salah satu cara efektif untuk mempromosikan pariwisata daerah. Karena itulah, BEC ini digelar. Tahun ini BEC telah memasuki penyelenggaraan yang ketiga,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas di Pendopo Kabupaten yang berada di Jalan Sritanjung.

Anas mengatakan, BEC mempunyai garis pembeda yang jelas dengan karnaval-karnaval yang diselenggarakan kota lain. Di antaranya, BEC mengusung tema kebudayaan lokal. “Ketika karnaval lain sibuk menarik tema dari luar ke dalam, Banyuwangi malah sebaliknya, yaitu menggali apa yang dimiliki di dalam untuk diperkenalkan ke luar. Kita ingin membagi kebudayaan lokal untuk masyarakat global,” kata Anas meyakinkan.

Dijelaskan Anas, kenapa BEC kali ini mengambil tema the Legend of Kebo-keboan, karena ritual kebo-keboan dilakukan sebagai wujud doa dan pengharapan agar hasil panen bisa melimpah. “Ritual itu telah berkembang di Banyuwangi selama ratusan tahun. Dan kami ingin anak muda sekarang tetap mengenal budaya lokal dan menjadi kebanggaan di tengah perkembangan zaman yang cukup canggih (era teknologi).”

Anas juga mengatakan, water buffalos (kerbau) mempunyai posisi spesial dalam masyarakat agraris. Kerbau merupakan rekan kerja dan harapan bagi petani. “Tidak seperti ternak (livestock) lain seperti sapi yang dikonsumsi dagingnya, kerbau selalu dianggap hewan yang membantu kemakmuran dan ketahanan pangan petani melalui tenaganya. Sehingga kerbau memperoleh status penting dan perlakuan khusus ketika masa tanam,” kata Anas.

Selain itu, perbedaan BEC dengan karnaval yang digelar di daerah lain maupun di luar negeri, kata Anas, adalah dengan mengedepankan kekuatan konsep dan tema. “BEC lebih mengeksplorasi konsep dan kekuatan tema ketimbang terjebak pada karnaval yang mengeksploitasi tubuh. Seperti karnaval di Brazil yang mengesploitasi tubuh wanita sebagai tontonan,” jelasnya.

Bagi Anas, upaya mengangkat kebudayaan lokal adalah bentuk investasi kebudayaan kepada generasi muda agar bisa menyerap dan memahami makna filosofis yang ada di setiap tradisi masyarakat. “Kita sering bertanya berapa investasi untuk membangun gedung, tapi mengabaikan investasi kebudayaan yang sangat penting untuk memperkokoh pondasi bangsa ini,” kata Anas.

Anas menambahkan, berbagai pergelaran pariwisata event (event tourism) dalam rangka Banyuwangi Festival diharapkan bisa meningkatkan peran sektor pariwisata untuk menggerakkan ekonomi daerah.

Banyuwangi Festival menampilkan berbagai atraksi budaya dan event yang berbasis potensi alam di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java itu. Mulai dari karnaval etnik, sport-tourism (Tour de Ijen), Sewu Paju Gandrung, sampai jazz pantai bersama Trio Lestari (Tompi, Glenn Fredly, Sandhy Sondoro). “Rangkaian Banyuwangi Festival ini bakal memberikan Banyuwangi Experience yang tak akan bisa ditemui di daerah lain,” pungkas Anas. (im)

Sumber: Merdeka.com



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge