0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Eddy Wirabhumi Orasi Ilmiah di IAIN Surakarta

KP Eddy Wirabhumi (dok.timlo.net/dhefi nugroho)

Solo —  Ketua Eksekutif Lembaga Hukum Keraton Kasunanan Surakarta Dr KP Eddy S Wirabhumi SH MM mengemukakan, islamisasi di Jawa, kedudukan dan peranan karaton sebagai perantara budaya, antara tradisi besar Islam dengan tradisi lokal Jawa.

“Prosesdan efek akulturasi antara kedua tradisi tersebut, dapat dikatakan sebagai pribumisasi Islam di Jawa,” jelas Eddy saat menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Islam dan Budaya Jawa Perspektif Keraton”, di depan civitas akademika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta, di Kampus IAIN Surakarta, Sabtu (7/9).

Eddy mengatakan, difusi cultural kemudian terus berlangsung melalui komunikasi social banyak tahap sejak dari Kuthanegara dan Nagaragung hingga Mancanagara. “Dalam proses pribumisasi Islam itu para Wali sebagai pejabat kerajaan dan sekaligus tokoh guru agama, memainkan perananyang sangat besar, baik di lingkungan keratin maupun masyarakat,” jelasnya.

Menurutnya, pada abad ke 18 dan 19, baik di wilayah perkotaan dan terutama di wilayah-wilayah pedesaan, tumbuh dan berkembang pesantren-pesantren yang didirikan dan dipimpin oleh para kyai. Para kyai inilah yang selanjutnya memainkan peranan sebagai perantara budaya, antara tradisi besar Islam dengan tradisi lokal Jawa, menggantikan peranan para Ki Ageng.

“Peran Ki Ageng adalah pengganti peran para wali seiring dengan beralihnya pusat kekuasaan dari pesisir ke pedalaman. Para kyai yang muncul umumnya masih memiliki pertalian darah dengan para Ki Ageng dan para bangsawan di lingkungan keraton,” jelasnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge