0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Film Fourty Years of Silent Satukan Masyarakat Akibat Peristiwa 1965

Film dokumenter berjudul "Fourty Years of Silent" diputar di Aula Monumen Pers Nasional, Solo, Sabtu (7/8) siang. (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Film dokumenter berjudul “Fourty Years of Silent” diputar di Aula Monumen Pers Nasional, Solo, Sabtu (7/8) siang. Film yang mengisahkan tentang kesaksian empat keluarga korban tragedi tahun 1965 tersebut, bertujuan untuk meluruskan fakta sejarah tentang peristiwa kerusuhan yang menyebabkan hilangnya jutaan nyawa orang Indonesia.

Sutradara film, Robert Lemelson mengatakan dibuatnya film tersebut berasal dari salah satu kenalan terdekatnya di Pulau Bali yang mengalami depresi mental. Sekitar 10 tahun yang lalu, dirinya membuat pendalaman tentang kasus yang terjadi di tahun ’65. Sehingga terciptalah sebuah film dokumenter yang mendokumentasikan peristiwa ’65 dari sisi korban dan keturunan yang dicap masyarakat sebagai pengikut partai terlarang.

“Penelitian ini untuk meluruskan bahwa peristiwa tersebut merupakan salah satu sejarah buruk bagi bangsa Indonesia,” paparnya kepada wartawan di sela pemutaran film.

Dijelaskan, peristiwa ’65 tersebut merupakan salah satu tragedi besar yang terjadi di jaman modern. Meski begitu, ada sejumlah negara yang mampu menyelesaikan permasalahan sejumlah tragedi yang terjadi. Seharusnya, pemerintah Indonesia juga dapat menyelesaikan permasalahan yang diakibatkan tragedi itu sehingga mampu menyatukan masyarakat yang terpecah karena kasus kejadian ’65.

“Di negara saya (Amerika) kasus ras menjadi permasalahan pokok. Namun, sejak tahun ’60-an kasus tersebut terus dibicarakan sehingga membuka pikiran masyarakat, bahwa masalah warna kulit bukanlah yang menjadi pembeda. Seharusnya di Indonesia juga harus mampu mengolah tragedi tersebut menjadi sebuah kekuatan yang mampu menyatukan masyarakat yang dulu pernah dicap sebagai pengikut partai terlarang,” terangnya.

Di tempat yang sama, Pengamat Peristiwa Tragedi ’65, Baskara T Wardaya mengatakan, Film “Fourty Years of Silent” ini telah diputar di sejumlah negara. Tak hanya itu, sebelum diputar di Solo, film tersebut juga diputar di Yogya, Jakarta, Purwodadi dan sejumlah kota lainnya di Indonesia. Dirinya berharap melalui film tersebut sudut pandang masyarakat yang menilai keluarga maupun eks-tahanan politik (Tapol) dengan stigma miring dapat terkikis.

“Harapan kami, masyarakat Indonesia yang terpisah jurang perbedaan akibat tragedi ’65 dapat bersatu kembali,” pungkasnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge