0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Guru SMA Swasta Sukoharjo Keluhkan Macetnya Pembayaran Tunjangan GTT

Sukoharjo — Guru SMA Swasta di Sukoharjo mengeluhkan tunjangan fungsional dan profesi Guru Tidak Tetap (GTT) yang sejak tahun 2012 hingga saat ini belum diterima. Bahkan diduga, tunjangan yang pembayarannya melalui rapelan itu jumlahnya juga dipotong.

Salah seorang guru yang enggan disebut namanya menjelaskan, besaran honor insentif dari Pemerintah Pusat sebesar Rp 250 ribu per bulan berlaku sejak tahun 2010. Sementara pembayarannya melalui rapel tiap 6 bulan. Pembayaran itu macet sejak awal 2012 lalu. Sesuai saran dari Dinas Pendidikan itu, dirinya telah 4 kali bolak-balik mengisi formulir yang sama untuk pembaharuan data.

“Dulu katanya tidak melalui dinas dan lebih baik langsung ke rekening guru. Dari BPD Jateng sudah disuruh pindah ke rekening BNI. Namun setelah ganti rekening, kita belum menerima tunjangan tersebut,” ujarnya.

Ia menambahkan, medio Juli tunjangan operasional untuk guru sempat turun. Namun, yang menerima hanya segelintir atau 25 persen. Bahkan, yang seharusnya menerima rapelan selama 6 bulan Rp 1,5 juta, namun hanya diterima Rp 600 ribu.

“Sebenarnya keluhan seperti itu banyak. Namun kami takut untuk mempertanyakan ke Diknas. Kami khawatir kalau kami lapor malah jadi masalah. Karena SK kami setiap tahun diperbaharui,” katanya.

Sementara itu Kepala Bidang Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Sukoharjo, Isnaini mengatakan, macetnya tunjangan itu disebabkan karena aplikasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik) tidak up to date. Sementara operator Dapodik berada dibawah wewenang masing-masing sekolah.

“Seringkali ada kesalahan pada pengisian Dapodik. Sementara SK keluar secara bertahap. Diperkirakan hal itu yang membuat penerima tunjangan hanya segelintir. Guru honorer yang tidak masuk dalam list penerima disarankan untuk mengecek di Dapodik sekolah masing-masing,” tuturnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge