0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ternak Kerbau Semakin Ditinggalkan

Kerbau makin jarang ditemukan di Boyolali (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Hewan satu ini dulunya merupakan hewan andalan para petani dalam mengarap sawahnya, namun belakangan ini, ternak kerbau semakin ditinggalkan. Peternak memilih menjual ternak kerbau miliknya karena dinilai kurang menguntungkan.

Seperti di Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Boyolali, kini tinggal dua peternak saja. Padahal, lima tahun sebelumnya, jumlah peternak kerbau mencapai puluhan orang. Bahkan, di setiap dusun dipastikan ada warga yang memelihara ternak tersebut.

“Sudah banyak yang tidak mau beternak kerbau,” ujar salah satu peternak, Gunaryo (55) warga Dusun/ Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Jumat (6/9).

Diakui, kini tidak banyak lagi warga yang beternak kerbau. Beternak kerbau saat ini dinilai merugikan. Pasalnya, beternak kerbau tidak semata untuk penggemukan maupun bisa menjual anakan atau yang biasa disebut warga dengan gudel. Sayangnya, keberadaan kerbau saat ini kalah dengan mesin modern seperti traktor. Para peternak memilih menjual ternaknya karena dinilai kurang menguntungkan.

“Dulu kan lebih banyak untuk membajak sawah. Upah yang diterima bisa untuk menyokong kebutuhan dapur,” ujarnya.

Memelihara kerbau lebih mudah dibandingkan ternak sapi. Cukup diberi makan rumput atau jerami, tak perlu ditambah katul maupun konsentrat. Jadi lebih irit. Selain itu harga kerbau pun lebih mahal dibandingkan sapi. Seekor kerbau hanya ditawar Rp 10 juta, padahal kalau sapi maksimal hanya Rp 8 juta dalam kondisi sama.

Terpisah, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Boyolali, Dwi Priyatmoko mengakui, ternak kerbau tidak termasuk dalam prioritas pengembangan peternakan di Boyolali. “Saat ini ternak kerbau di seluruh Boyolali tercatat 15.000 ekor,” jelasnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge