0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Takut Basmi Tikus, 25 Hektar Sawah di Boyolali Bero

Petani tengah gropyokan tikus (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Gara-gara kepercayaan yang berkembang di masyarakat untuk tidak membasmi hama tikus karena akan membuat hewan pengerat ini mengamuk, lahan persawahan di Desa Kragilan, Mojosongo, Boyolali seluas 25 hektar dibiarkan bero atau tidak ditanami. Petani sendiri saat ini masih trauma untuk menanam padi di lahan mereka. Akibatnya mereka gagal panen pada tahun ini. Setidaknya dua kali musim panen, petani tidak bisa panen.

Ngatman (68), Ketua Kelompok Tani Ngesti Boga, Kragilan mengungkapkan, dirinya harus melakukan pendekatan kepada anggota kelompok taninya untuk membasmi hama tikus. Upaya gropyokan tersebut dilakukan dengan harapan petani dapat menikmati hasil panen kembali. Setelah berbagai upaya penyadaran dan para petani melihat langkah pemberantasan tikus oleh kelompok tani lainnya yang cukup berhasil, mereka pun akhirnya mau memberantas tikus di sawah-sawah.

“Ini gerakan yang pertama kalinya setelah petani tidak berani memberantas hama tikus, takut kalau serangan tikus semakin besar,’ ungkap Ngatman , Jumat (6/9).

Sedangkan untuk membasmi hama tikus, petani mendapat bantuan obat mercon dari dinas terkait. Hanya saja obat yang diberikan sangat minim, yakni hanya lima boks yang masing-masing berisi 100 obat. Jumlah tersebut sangat minim lantaran untuk 1 hektar saja membutuhkan sekitar satu boks.

Selain itu, ternyata petani banyak yang masih kebingungan menggunakan alat gropyokan. Pasalnya, mereka hanya diberikan teori, sementa petugas penyuluh lapangan (PPL) yang hadir, tidak turun mendampingi di sawah dan hanya menunggu di jalan.

Kondisi ini disesalkan Tri Suryanto, anggota DPRD Boyolali yang juga tokoh masyarakat setempat yang ikut hadir. Menurut dia, selain obat-obatan yang disediakan sangat tidak mencukupi, PPL yang hadir semestinya ikut turun mendampingi petani sehingga hasilnya lebih efektif. Tri mengaku prihatin lantaran petani sudah beberapa kali gagal panen, salah satunya lantaran kurangnya sosialisasi dari pemerintah. Termasuk keengganan petani memberantas hama tikus kemarin lantarn informasi yang salah.

“Saya khawatir kalau gropyokan ini tidak berhasil, petani akan kapok, padahal tikus-tikus itu harus diberantas, harapan kami pemerintah melalui PPL bisa berperan lebih,” jelasnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge