0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Ditanam Secara Magersari, Singkong Wonogiri Kurang Maksimal

Ubinan singkong di salah satu lahan monokultur di Wonogiri (dok.timlo.net/aris arianto)

Wonogiri —  Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura (DispertanTPH) Wonogiri, Safuan, menyebutkan, hasl produksi tanaman singkong di masih memungkinkan untuk ditingkatkan. Mengingat ubinan singkong varietas Gajah yang menunjukkan hasil memuaskan.

“Berdasarkan ubinan monokultur di beberapa wilayah kecamatan yang berbeda di Wonogiri ini, satu hektar bisa mencapai 60 sampai 90 ton singkong basah. Sementara saat ini yang ditanam petani baru menghasilkan sekitar 16,3 ton perhektar. Artinya kemungkinan untuk bertambah sesuai ubinan, sangat besar,” jelas Safuan, Jumat (6/9) di ruangannya.

Menurut Safuan, pola tanam petani selama ini, singkong hanya ditanam secara tumpang sari alias multikultur sehingga hasilnya tidak masksimal. Namun, andai nanti bermunculan perusahaan pengolahan singkong maupun investor di industri singkong, petani akan disarankan mengembangkan pola tanam monokultur. Tentunya varietas yang ditanam harus unggul. Dia mencontohkan saat ini sudah ada di Wonogiri, yakni varietas singkong Gajah.

“Kalau soal luasan lahan, tahun ini bisa meningkat sampai 60 ribu hektar. Ini lantaran ada proyek ubinan tersebut. Untuk tahun 2012 lalu total areal singkong Wonogiri baru 57.693,” ujar mantan Kepala Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Wonogiri ini.

Terpisah, dua utusan calon investor singkong asal Cina, menurut Direktur BUMP PT Bangkit Kasava Nusantara, Katno, telah melihat tanaman singkong pada Kamis (5/9) kemarin. Calon investor itu menurut Katno, membutuhkan singkong varitas unggul seluas 3.000 hektare lebih.

“Jika terlaksana, BUMP akan menggandeng para perangkat desa yang tergabung dalam Paguyuban Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Wonogiri selaku pemilik lahan,” terangnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge