0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pemkab Petakan Daerah Rawan Kekeringan

(Ilustrasi) Kekeringan, warga terpaksa manfaatkan air sungai (dok.timlo.net/nanin)

Boyolali — Pemkab Boyolali melalui Bagian Kesra Setda melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan. Setidaknya terdapat 10 kecamatan dari 19 kecamatan yang ada yang dinilai rawan kekeringan. Puncak kemarau sendiri diperkirakan akan terjadi bulan September-Oktober.

Peta daerah kekeringan dibagi dalam dua wilayah, wilayah Boyolali utara dan selatan. Untuk wilayah Boyolali utara meliputi kecamatan  Kemusu, Wonosegoro, Juwangi, Andong, Klego, Simo dan wilayah Kecamatan Karanggede. Sedangkan wilayah Boyolali selatan meliputi Wilayah Kecamatan Musuk, Cepogo dan Boyolali. Daerah yang dinilai rawan kekeringan tersebut indikasinya tidak adanya sumber air dan merupakan daerah tadah hujan, seperti di wilayah Boyolali utara.

Menurut Kasubag Sosial dan Kesra Boyolali, Nuryadi, pihaknya saat ini juga sudah siap melakukan droping air ke sejumlah wilayah yang sudah mulai mengalami kesulitan air bersih. Droping air sendiri dilakukan karena sudah banyak warga yang mengajukan bantuan air bersih. Untuk droping air sendiri, pihaknya akan bekerjsama dengan PDAM, PMI Boyolali dan Bakorwil Surakarta.

“Air sudah siap distribusikan ke wilayah yang kesulitan air bersih, pengambilan air bersih akan diambilkan dari sumur-sumur PDAM yang dekat dengan daerah kesulitan air bersih,” ungkap Nuryadi, Kamis (5/9).

Ditegaskan, Droping air bersih di wilayah utara Boyolali, Pihak Pemkab Boyolali bekerjasama dengan, PDAM Boyolali, Bakorwil Surakarta, PMI Boyolali serta pihak swasta. Pada 2013 ini anggaran untuk penanganan bencana kekeringan sebesar Rp 105 juta sama besarnya dengan anggaran 2012 lalu. Anggaran sebesar itu dipastikan cukup untuk penanganan bencana kekeringan di Kota Susu Boyolali.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge