0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dana Terbatas, Dewan Kesenian Sukoharjo Mati Suri

Kirab budaya HUT Sukoharjo (Dok.Timlo.net)

Sukoharjo — Pengajuan anggaran kegiatan ke pemerintah kabupaten tidak ditanggapi, Dewan Kesenian Sukoharjo (DKS) mati suri. DKS tidak mengagendakan kegiatan karena keterbatasan dana.

Kepala Disvisi Sastra DKS Bambang Hermanto mengatakan, saat ini DKS hanya meninggalkan nama. Selain tidak adanya tanggapan dari Pemkab Sukoharjo, bahkan DKS juga tidak memiliki tempat untuk sekretariat. Saat ini papan sekretariat Dewan Kesenian Sukoharjo di pasang bersamaan dengan agen koran miliknya di seputaran Pasar Kota Sukoharjo.

“Pasca dibongkarnya gedung RSPD, kami sudah tidak memiliki sekretariat lagi. Jadi untuk sementara sekretariat berada di tempat kerja saya. Bahkan untuk 2013, pengajuan kegiatan kami tidak ditanggapi,” ujar Bambang, Kmais (5/9).

Dijelaskan, DKS memiliki SK Bupati sejak tahun 2011. Meski sedikit, namun hingga tahun lalu dana dari Pemerintah masih dapat menopang beberapa divisi Dewan Kesenian di antaranya tari, sastra, teater, musik, vocal, seni rupa dan gamelan.

Tahun 2011 dana di kucurkan sebesar Rp 30 juta. Sementara tahun 2012 dana diberikan Rp 20 juta. “Sementara tahun ini tidak sama sekali. Maka DKS pun mati suri. Meski ada kegiatan namun kegiatan tersebut dilakukan atas nama sendiri,” jelasnya.

Minimnya perhatian Pemkab Sukoharjo untuk kesenian, dikhawatirkan akan memutus mata rantai kegiatan seni dan budaya di Sukoharjo. Hal itu dapat dilihat dengan tidak adanya agenda budaya rutin. Bahkan Sukoharjo tidak memiliki tempat representatif untuk kegiatan seni dan budaya. Padahal potensi di bidang kesenian banyak di temui bibit-bibit muda. Selain itu warisan budaya seperti gamelan seharusnya juga dapat dilestarikan.

Akibat kondisi ini, tak ayal sejumlah seniman asal Sukoharjo memilih eksodus ke daerah lain. Seperti halnya Jliteng Suparman dan Warseno Slank lebih dikenal dari Solo.

Kurangnya komunikasi antara Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (POPK) dengan sejumlah steakholder di sinyalir menjadi pemicu minimnya perhatian untuk kesenian dan kebudayaan.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge