0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Usai Kerciuhan di Stadion Manahan

Seharusnya Suporter Persis dan PSS Bisa Damai

Korban kericuhan suporter diturunkan dari tribun penonton. (Dok.Timlo.net/ Aryo Yusri Atmaja)

Solo — Laga Divisi Utama LPIS antara Persis Solo kontra PSS Sleman di Stadion Manahan, Rabu (4/9) tercoreng dengan aksi anarkis. Meski Persis dinyatakan menang WO atas PSS Sleman, kericuhan tak terhindarkan dengan korban yang berjatuhan akibat sweeping yang dilakukan suporter tuan rumah.

Tercatat sebanyak tujuh korban jatuh dalam pertandingan tersebut, diantaranya Haryono Wibisono (19) Mojosongo, Harry Sukma Pramana Putra (23) Banjarsari, Gani Eka (15) Bantul, Dicky Arie Pradana (17) Bantul, Yuneri Dwi Nugroho (15) Klaten, Candra (17) Prambanan dan Abraham Nico (15) Prambanan.

Rivalitas kedua tim hingga merembet suporter masing-masing yakni Pasoepati dan Brigata Curva Sud (BCS), memang telah dimulai musim lalu. Setidaknya dua kali bentrokan kedua suporter pecah saat musim lalu di bulan April 2012 dan 9 Juni lalu, keduanya terjadi di Stadion Maguwoharjo Sleman. Dan kini giliran aksi tersebut dibalas di Stadion Manahan.

21 April 2012, bentrokan antara Pasoepati dan BCS pecah di Maguwoharjo usai pertandingan yang berakhir dengan kemenangan PSS 2-0 kala itu, tercatat motor warga Sleman dibakar.  Begitu juga dengan 9 Juni 2013 kemarin, ratusan Pasoepati yang nekat ngluruk ke Sleman berakhir dengan tawuran dengan suporter PSS, dan akibatnya sebuah kendaraan dibakar.

Terakhir, beberapa jam sebelum berita ini diturunkan, giliran tawuran pecah di Stadion Manahan. Aksi sweeping Pasoepati kepada suporter yang diduga penyusup asal Sleman membuat 7 korban dilarikan ke RS dengan kondisi luka maupun kritis.

Pelatih Persis, Widyantoro merasa prihatin dan resah dengan kondisi seperti itu. Dirinya memang menjadi sosok yang cukup miris melihat kondisi Persis dan PSS saat ini. Pasalnya, Widyantoro merupakan pelatih PSS Sleman saat terjadinya bentrok pertama di Maguwo setahun silam, dan kini berstatus pelatih Persis Solo.

“Saya berharap ada perdamaian antara teman- teman suporter baik dari Solo maupun dari Sleman. Seharusnya kedua suporter bisa berdamai, kan enak bisa menonton bareng-bareng dalam kondisi rukun,” ujar Widyantoro kepada wartawan usai pertandingan Rabu sore.

Dirinya menilai suporter dalam mendukung tim masing-masing hanya dibedakan dengan perbedaan warna seragam. “Selebihnya saat berpakaian biasa semua adalah saudara, alangkah baiknya hal itu juga diterapkan saat pertandingan sepak bola,” pungkas pelatih asal Magelang ini.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge