0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Gara-gara Harga Kedelai Naik

10 Persen Perajin Tempe Wonogiri Gulung Tikar

Pedagang kedelai di Pasar Kota Wonogiri (dok.timlo.net/aris arianto)

Wonogiri – Setidaknya 10 persen perajin tahu dan tempe di Wonogiri terpaksa menutup usahanya. Gara-garanya, harga kedelai impor sebagai bahan baku tahu dan tempe masih melambung.

Demikian diungkapkan Kamto, Penyuluh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM (DisperindagkopUMKM) mewakili Kabid Perindustrian Joko Irianto, Selasa (3/9). Pihaknya beberapa hari belakangan ini melakukan pemantauan ke sejumlah perajin tahu dan tempe di seluruh Wonogiri.

“Di Wonogiri ada 3.915 perajin tahu dan tempe. Rinciannya, 3.616 perajin tempe dan 299 perajin tahu. Dari totalan itu, sekitar 10 persennya memilih menutup usahanya karena harga kedelai masih tinggi dan mereka tidak lagi bisa mendapatkan untung,” kata Kmato.

Dikatakan, mereka yang memilih menghentikan usaha adalah perajin tempe dan tahu bermodal minim. Sebagian besar berada di kawasan pedesaan. Untuk perajin bermodal besar masih meneruskan usahanya.

Kabid Perdagangan Disperindagkop UMKM Wonogiri, Joko Pramono mengiyakan masih tingginya harga kedelai impor. Saat ini mencapai Rp 9.600 per kilogramnya. Untuk kedelai lokal ada di harga mencapai Rp 10.000 per kilogram.

Terpisah, Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (DispertanTPH) Wonogiri Tri Luwarso menjelaskan, petani kedelai di wilayah Wonogiri sebagian telah memanen. Harga perkilonya saat ini ada di kisaran Rp 9.500 sampai Rp 9.600.

 



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge