0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Upacara King Hoo Ping, Bakar Kapal dan Uang Kertas untuk Leluhur

Upacara King Hoo Ping, Bakar Kapal dan Uang Kertas untuk Leluhur. (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Semerbak aroma dupa mengiringi upacara Sembahyang King Hoo Ping 2564/2013 yang diadakan di Litang Majelis Khonghuchu Indonesia (Makin) Gerbang Kebajikan, Solo, Minggu (1/9) siang. Acara yang dihadiri sejumlah penganut agama Khonghuchu untuk memanjatkan doa kepada leluhur tersebut berlangsung khidmat dengan lantunan doa-doa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Ketua Makin Khonghucu Solo, Adjie Candra mengatakan sembahyang yang diadakan kali ini sebagai wujud ketaatan kepada para leluhur. Menurut kepercayaan umat Khonghucu, sembahyang King Hoo Ping merupakan sarana untuk membekali arwah-arwah leluhur yang akan kembali menuju akherat.

“Menurut ajaran Khonghucu, pada bulan ketujuh Imlek gerbang akherat dibuka. Saat itulah, arwah leluhur pergi untuk menyambangi anak cucu mereka. Setelah mengunjungi, arwah tersebut akan kembali ke akherat. Nah, tugas kita sebagai generasi yang mashi hidup adalah memberikan bekal kepada leluhur berupa uang-uangan kertas, dupa, sesaji dan barang-barang lainnya untuk dikirimkan kepada para leluhur dengan cara dibakar,” ucapnya.

Dijelaskan, ada aturan khusus yang harus diikuti dalam melakukan sembahyang King Hoo Ping. Salah satunya adalah membakar sebanyak lima buah dupa didepan altar. Hal itu sesuai dengan ajaran tentang lima kebajikan yang diturunkan oleh leluhur bangsa cina. Diantaranya adalah cinta kasih, kebenaran, susila (kebajikan), bijaksana dan dapat dipercaya.

“Penyalaan dupa di upacara ini sebagai wujud ikatan batin antara yang hidup dengan almarhum. Selain itu, juga sesuai dengan ajaran yang telah diturunkan dari generasi ke generasi tentang 5 ajaran kebajikan,” terangnya.

Upacara King Hoo Ping ditutup dengan acara makan bersama antara penganut agama Khonghucu dan pembakaran perahu kertas dan sejumlah uang kertas serta sesaji untuk dikirimkan kepada arwah leluhur agar tenang dialam baka.

“Kenapa kita memilih perahu kertas? Karena sarana transportasi jaman dahulu yang digunakan bangsa cina adalah kapal atau perahu. Disini kita mengirimkan perahu kertas ini agar leluhur dapat menggunakannya sebagai sarana kembali ke akherat,” pungkasnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge