0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

‘Tedjowulan’ dan ‘Gusti Moeng’ Naik Becak Bersama

Akting jadi Tedjowulan dan Mbak Moeng. (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik.)

Solo — Mahapatih KGPH Panembahan Agung Tedjowulan bersama dengan GKR Koes Murtiyah Wandasari atau Gusti Moeng berjalan beriringan di Car Free Day (CFD) Jalan Slamet Riyadi, Solo, Minggu (1/9). Mereka tampak akur dan berjabat tangan, seakan tak ada masalah seperti yang diberitakan di sejumlah media tentang kisruh yanng terjadi diantara keduanya.

Namun jangan salah, keduanya bukanlah orang yang sesungguhnya. Melainkan hanyalah replika masyarakat Kota Solo yang memakai topeng sebagai simbol atau himbauan agar keduanya akur dan melupakan masalah yang ada.

“Keraton Solo merupakan jendela bagi Kota Solo. Jika terus terjadi konflik di Keraton maka citra Kota Solo menjadi taruhannya,” terang penggagas aksi sekaligus orang yang memerankan sosok Mahapatih KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, Mayor Haristanto di sela acara.

Dikatakan, keraton seharusnya menjadi pusat rujukan budaya dan ciri kerukunan masyarakat Kota Solo. Pasalnya, masyarakat Jawa yang terkenal ramah serta menjunjung tinggi budaya musyawarah harusnya juga diterapkan dilingkungan Keraton Solo.

“Masyarakat Jawa ini kan terkenal dengan penyelesaian masalah secara musyawarah. Kenapa tidak diterapkan hal itu. Padahal di keraton sendiri kan pusatnya budaya,” terangnya.

Menanggapi hal itu, salah seorang pengunjung CFD, Agus Listyanto (32) mengatakan harusnya kedua belah kubu merasa malu dan menumbuhkan sikap untuk saling memaafkan secara legawa. Namun, dirinya melihat sampai sejauh ini kisruh tersebut masih terus berlarut-larut dan belum ada titik temu antara keduanya.

“Seharusnya keraton memberikan contoh yang baik kepada masyarakatnya, khususnya wong Solo. Bukan malah, urusan mereka sampai ke meledak di media-media seperti yang terjadi saat ini,” sesal warga Gilingan, Banjarsari tersebut.

Ia berharap, agar kisruh yang terjadi dapat segera mereda dan diselesaikan dengan cara musyawarah. Dan hal itu tidak terjadi lagi dikemudian hari nanti.

“Semoga kisruh ini dapat segera diselesaikan dan ini merupakan kisruh terakhir yang terjadi di Keraton Solo,” harapnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge