0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pre Even Kedua SIPA, Hadirkan Tari Tradisi dan Talk Show

Pre Event ke-2 SIPA 2013. (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Sejumlah tari tradisional dari berbagai daerah mengawali Pre Even kali kedua Solo International Performance Art (SIPA) 2013 yang digelar di Atrium Solo Squere, Sabtu (31/8) malam. Tari-tarian seperti, Jaipong (Jawa Barat), Pendet (Bali), dan Merak Ngigle (Jawa Tengah) tersebut menghibur sejumlah pengunjung yang menyaksikan acara itu. Tak hanya menyajikan tarian saja, dalam pre even yang diadakan juga digelar talk show dengan mengundang pembicara dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Solo yang diwakili oleh Veronica Ekowati dan Maskot SIPA 2013, Rachel Georghea Sentani.

“Pre event kali kedua ini memang sengaja menggelar talk show, agar lebih mendekatkan Pagelaran SIPA ini dengan masyarakat Kota Solo,” terang Humas SIPA 2013, Fauzan Natsir ketika ditemui wartawan di sela acara.

Dijelaskan, SIPA 2013 yang mengusung tema “The Legend Story of World Curture” akan menggali unsur-unsur budaya lokal dan tradisi untuk ditampilkan kedalam sebuah seni pertunjukan. Tak hanya itu, sejumlah delegasi dari luar negeri juga turut diundang untuk menampilkan performace terbaik mereka di ajang internasional tersebut.

“Kami sengaja mengundang delegasi-delegasi terbaik untuk tampil di even ini. Dan perform yang mereka sajikan akan menggali dan menceritakan tentang daerah-daerah yang mereka tinggali tersebut,” terangnya.

Disinggung tentang esensi dari tarian yang disajikan tersebut, dijelaskan Fauzan, bahwa ketiga tarian yang ditampilkan merupakan wujud pelestarian budaya. Tari Merak Ngidel, menceritakan tentang sekelompok burung yang bermain dengan gembira dan simbol kemandirian. Sementara Tari Jaipong merupakan simbol tari pergaulan yang ditampilkan untuk mempererat persatuan dan persaudaraan. Sedangkan Tari Pendet menyimbolkan tentang penyambutan terhadap Dewa yang datang dan merasuk pada jiwa sang penari.

“Sengaja kami menghadirkan ketiga tarian ini sebagai simbol untuk pelestarian budaya khususnya tari yang sudah mulai dilupakan,” pungkas Fauzan.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge