0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Pameran di Balai Soedjatmoko

Wayang Beber Telah Jadi Benda Pusaka dan Keramat

Pameran Seni Rupa Wayang Beber bertajuk Antara Inspirasi dan Transformasi di Balai Soedjatmoko, Senin (25/3) malam. (dok.timlo.net/achmad khalik)

Solo — Keberadaan wayang beber di jaman yang semakin maju ini makin jarang ditemui. Kesenian berumur ratusan tahun, warisan leluhur bangsa itu lambat laun makin terpinggirkan dan digilas jaman. Namun begitu, segelintir orang tetap bertahan memperjuangkan dan melestarikan pertunjukan wayang beber di tengah-tengah himpitan modernisasi.

Berawal dari kegelisahan tersebut, digelarlah Pameran Seni Rupa Wayang Beber bertajuk “Antara Inspirasi dan Transformasi” di Balai Soedjatmoko, Senin (25/3) malam.

Dalam pameran tersebut, wayang beber ditorehkan ke dalam media-media lukis. Mulai dari kertas, kain hingga kaca. Uniknya, tidak hanya wayang beber tradisi saja yang dihadirkan, sesuai dengan tema yang diangkat sebuah lukisan robot berjudul quest for the golden scrolls pun ikut mewarnai pameran itu.

Kurator Balai Soedjatmoko, Ardus Sawega dalam sambutannya mengatakan, wayang beber telah menjadi benda pusaka dan keramat. Hanya dalam even-even tertentu seperti bersih desa dan ruwatan, kesenian legenda masyarakat Jawa tersebut dipentaskan. Namun, melalui even yang diadakan tersebut pihaknya ingin menampilkan wujud seni rupa wayang beber tradisi serta transformasi wayang beber di zaman modern.

“Saya berharap, meskipun wayang beber bertransformasi ke dalam bentuk apapun namun spirit dari kesenian tersebut harus tetap tertananam,” pintanya.

Di tempat yang sama, dalang wayang beber, Ki Supani (42) mengaku sangat senang masih ada segelintir orang yang peduli akan keberadaan wayag beber. Di daerahnya Desa Kedompol, Kecamatan Donorejo, Kabupaten Pacitan (Jatim), wayang beber sudah sangat jarang ditemui. Terlebih oleh anak muda di sana. Selain jarang dipentaskan di daerahnya sendiri, wayang tersebut juga tidak ada yang bersedia untuk mempelajari. Sehingga dikhawatirkan kesenian tersebut berlahan akan menghilang.

“Di desa saya Pacitan, sangatlah langka menjumpai pertunjukan wayang beber ini. Kalaupun ada itu belum tentu setahun sekali. Yang dikhawatirkan adalah kelangsungan dari wayang tersebut, sebab kawula muda tak ada yang tertarik untuk mempelajari,” tuturnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge