0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Open Day, Seniman Asing Olah Tubuh di Lemah Putih

Salah satu penampilan seniman asing dalam acara bertajuk "One Day" di Padepokan Lemah Putih, Plesungan, Karanganyar (dok.timlo.net/achmad khalik)

Karanganyar — Ekspresivitas gerak dan olah tubuh dieksplorasi dalam gelaran bertajuk Open Day yang diadakan di Padepokan Lemah Putih, Rabu (27/2). Dalam gelaran itu, sejumlah seniman Barat juga unjuk kebolehan mengekspresikan diri melalui karya seni gerak tersebut. Di antaranya, Karolina Nieduza (Polandia), Estefania Pifano (Venezuela), Johan Dhaese (Belgia), Thea (Italia) dan Ellen-Arrie (Australia).

Uniknya, penampilan yang mereka bawakan tersebut juga dikolaborasi dengan lantunan suara-suara yang dihasilkan oleh seniman lokal seperti Amrin, Anie dan Misbah.

Seniman Solo, Suprapto Suryadharmo mengatakan, acara yang digelar tersebut merupakan sebuah ajang ekspresi yang ditunjukkan, setelah beberapa hari mereka (para penampil) belajar gerak olah tubuh di Padepokan Lemah Putih, Plesungan, Karanganyar.

“Selama beberapa hari ini mereka belajar tentang mengkomunikasikan diri antara seni gerak tubuh dengan seni pertunjukan di tempat ini. Sehingga acara ini dapat dikatakan sebagai presentasi dari mereka,” papar Suprapto ditemui di sela acara.

Olah gerak ekspresi yang ditampilkan dalam balutan kegelapan dan hanya diterangi cahaya lentera maupun lilin tersebut, mengusik berbagai tanya tentang makna dan simbol yang mereka bawakan. Seperti yang dibawakan Thea dari Italia. Ia memakai busana merah terang yang tertelan ditengah kegelapan. Sambil menyalakan lentera dan membunyikan genta dirinya berkeliling sekitar tempat pertunjukan. Lalu, diteruskan dengan memainkan alat musik saron di tengah pertunjukannya.

Usai pertunjukan, Thea mengakatan hal itu dilakukannya sebagai perwujudan antara perbedaan dan kegelisahan yang dialami oleh manusia. Sedangkan permainan saron yang ia tampilkan merupakan penyatuan antara budaya Jawa dan agama Hindu.

“Dalam pertunjukan ini saya mengangkat penyatuan ajaran Hindu dengan budaya Jawa. Hal itu saya cerminkan dalam penggunaan genta, lentera dan saron,” tuturnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge