0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mengenal Swara Deling

Waktu Ngamen Pernah Diusir Satpol PP

Solo – Group musik bambu Swara Deling, saat ini sudah sering tampil di berbagai event yang ada di kota Solo. Kelompok ini terbilang memiliki jadwal yang cukup padat bahkan sebuah kerjasama untuk tampil menghibur para penumpang kereta api Jaladara sudah terjalin. Namun ditengah kesuksesan tersebut, perjuangan luar biasa dilakukan untuk tetap bertahan.

Swara Deling dahulunya dikenal sebagai sekelompok pemuda di salah satu kampung yang gemar bermain klotekan (tabuhan), namun karena dirasa mengganggu warga akhirnya aktifitas mereka mendapatkan protes dari warga. “Waktu itu mereka mendatangi saya dan meminta ijin untuk latihan di padepokan Gedong Putih, lalu saya ijinkan dan sejak saat itu mereka selalu berlatih di padepokan tanpa perlu kawatir protes dari warga,” papar Toni Darsono selaku manager Swara Deling kepada Timlo.net di Rumah Turi, Selasa (28/12).

Setelah mulai aktif berlatih kelompok ini mencoba unjuk gigi di hadapan masyarakat Solo dengan memanfaatkan area public space. “Strategi yang penting masyarakat tahu dulu keberadaan Swara Deling. Dari situ kita mulai ngamen di City Walk, di depan Lodji Gandrung dan di Ngarsopuro,” lanjutnya.

Namun perjalanan Swara Deling tidak semulus yang dibayangkan, ngamen di public space harus siap mendapatkan usiran dari masyarakat maupun aparat keamanan. “Pernah suatu ketika ngamen di depan Lodji Gandrung kemudian diusir, dengan sedikit ngotot kami mencoba bertahan dan akhirnya tetap diperbolehkan ngamen walaupun harus pindah bukan didepan Lodji Gandrung,” kenang pria yang tinggal di Padepokan Gedong Putih tersebut.

Selain itu mendapatkan usiran, kelompok music bamboo ini juga pernah mengalami kejadian pahit, tatkala mengamen di City Walk hanya dua tiga orang yang lewat. “Dahulu masih baru-barunya city walk, dan sangat sepi. Ketika kami ngamen hanya ada dua tiga orang yang lewat,” ucapnya.

Untuk menghidupi kelompok ini dahulunya mengandalkan saweran dari masyarakat namun sekarang ini setelah nama mereka dikenal, banyak job dan undangan yang mampir kepada kelompok musik bambu ini. “Seperti kata pepatah, ojo golek jenang, nanging golek jeneng (jangan mencari jenang/makanan tapi carilah nama). Itu yang kita lakukan demi mengenalkan nama kelompok ini, kami rela ngamen walaupun hanya mendapatkan bayaran yang tidak seberapa,” kenangnya.



Komentar Anda

loading...
KEMBALI KE ATAS badge