0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kearifan Budaya Bentengi Kota Solo dari Konflik

Sejumlah tokoh dalam diskusi Kearifan Budaya Lokal, Jumat (25/1). (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Dialog publik yang mengangkat pencegahan konflik antar kepentingan di Kota Solo digelar di Auditorium Gedung Soloraya atau Badan Koordinasi Wilayah II (Bakorwil), Jumat (25/1). Dalam dialog tersebut dibahas mengenai pemanfaatan kearifan lokal kota Solo dalam mencegah konflik di Kota Solo.

Diskusi yang mengusung tajuk “Kearifan Budaya Lokal Dalam Mencegah dan Meredam Konflik Antar Kepentingan” diikuti ratusan peserta baik dari organisasi sosial, masyarakat, tokoh agama, maupun masyarakat umum.

Acara itu juga menghadirkan sejumlah tokoh masyarakat di Solo dan sekitarnya. Antara lain, HM Dian Nafi’ (Pengasuh Ponpes Al Muayyad Sukoharjo), Dr Oesman Arif (Dosen Pasca Sarjana Filsafat dan Budaya UNS), serta Ustadz Edi Lukito (Panglima Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS).

Dalam paparannya, Dr Oesman Arif menerangkan masyarakat Kota Solo serta masyarakat di pulau Jawa perlu memahami budaya lokal yang ada. Menurutnya orang memahami budaya suatu masyarakat tidak dapat dengan ukuran dari luar, namun masyarakat perlu belajar budaya secara cermat tanpa berprasangka buruk dan dipelajari secara objektif.

“Jangan menafsirkan suatu fenomena budaya tertentu dengan keyakinan sendiri. Konflik kepentingan memang tidak dapat dihindari, tetapi orang tidak boleh lupa bahwa ada kepentingan bangsa yang tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan pribadi maupun kepentingan golongan,”ujar Oesman dalam diskusi yang digelar oleh Lembaga Kajian Lintas Kultural ( LKLK ) Surakarta.

Menurut Ketua Panitia Diskusi, Sofyan Faisal, tema tersebut diambil dengan harapan konflik-konflik atau permasalahan yang terjadi di Kota Solo dapat diselesaikan dengan cara-cara yang lebih santun, ramah serta menghindari hal yang bersifat kekerasan.

“Kita tahu ada banyak kepentingan yang ada di Kota Solo ini. Ada kepentingan politik, ekonomi, budaya bahkan keagamaan. Tinggal bagaimana kita mengolah sebuah konflik untuk diselesaikan dengan cara yang lebih baik,” ujarnya kepada wartawan di sela-sela diskusi.

Faisal menambahkan, masyarakat harus mengesampingkan dahulu cara-cara yang bersifat kekerasan. “Ini yang kita harapkan bukan hanya dari kelompok masyarakat, namun semua masyarakat baik pemerintah dan pihak keamanan kita harap penyelesaian masalah lebih dengan cara persuasif,” ucapnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge