0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sidang Perusakan Kafe

Jaksa Dianggap Salah Tafsirkan Pasal 170 KUHP

Lima dari enam terdakwa perusakan kafe Masaran menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Sragen, Senin (21/1). (dok.imlo.net/agung)

Sragen – Jaksa  Penuntut Umum (JPU) membantah pandangan penasehat hukum keenam terdakwa dalam kasus perusakan kafe di Masaran, yang menyatakan dakwaan jaksa tidak cermat, tidak jelas dan tidak lengkap. Menurut jaksa dakwaan yang disampaikan sudah memenuhi unsur-unsur materiel dan merupakan tindak pidana.

Dalam sidang yang ketiga kalinya di Pengadilan Negeri (PN) Sragen, Senin (21/1) JPU tetap berpendirian bahwa surat dakwaan sudah cermat dan dapat dipahami. JPU berpendapat surat dakwaan tidak dapat diterima jika memenuhi syarat-syarat; perbuatan yang dilakukan para terdakwa bukan merupakan tindak pidana dan sudah kadaluwarsa.

“Apa yang dilakukan para terdakwa sudah memenuhi unsur material perbuatan pidana,” kata JPU dalam sidang yang dipimpin oleh ketua majelis hakim Purnomo Hadiyarto. Oleh sebab itu JPU sidang perusakan kafe di Masaran dengan 6 terdakwa tetap dilanjutkan.

Seperti dalam sidang sebelumnya yang terbagi dalam 2 sidang, persidangan pertama adalah mendengarkan tanggapan JPU terhadap eksepsi penasehat hukum terdakwa Ustadz Kholik Hasyim al Hasyim As’ari (49). Setelah selesai sidang dilanjutkan dengan pembacaan tanggapan JPU terhadap 5 terdakwa lainnya, yaitu Dita Wisnu Wardana al Tsabit bin Wakijo (23), Al Fatah Pamuko Negoro (26), Ahmad Usman al Galih (19), Warsono al Tolkah (25), dan Yuskarman (28).

Sementara itu, koordinator Tim Pengacara Muslim (TPM) yang mendampingi terdakwa, Anies Prijo Ansharie usai sidang menyatakan, JPU sama sekali tidak menjawab permasalahan yang TPM kemukakan dalam sidang sebelumnya, Senin (14/1). JPU kurang cermat dalam menafsirkan bahasa yang ada dalam pasal 170 KUHP. Menurutnya, JPU menafsirkan pasal 170 KUHP tersebut dengan pengertian satu orang menghancurkan  beberapa barang.

“Padahal kalau kita cermati dalam pasal 170 KUHP itu, dua-tiga orang atau lebih menghancurkan satu barang. Tetapi jaksa menafsirkan satu orang menghancurkan dua atau tiga barang. Jadi apa yang disampaikan JPU belum menjawab apa yang kami permasalahkan dalam sidang sebelumnya,” kata Anies kepada Timlo.net.

Sidang akhirnya ditunda Senin depan, dengan agenda pembacaan putusan sela oleh majelis hakim.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge