0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ini Dia, Makna Mainan Pecut di Sekaten

Mainan Pecut atau cambuk yang dijual di Sekaten Solo. (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Tak lengkap rasanya apabila gelaran Sekaten tanpa beragam permainan khas pasar malam, seperti tong setan dan rumah hantu. Ada juga pedagang yang menjajakan berbagai produk, mulai makanan, pakaian, gerabah, hingga pecut dan celengan yang menjadi salah satu ciri khas Sekaten.

Ketua Panitia Pelaksana Maleman Sekaten 2013, Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Satriyo Hadinagoro mengemukakan, sekaten kali ini diikuti oleh sekitar 500 peserta yang umumnya merupakan pedagang turun menurun dari berbagai daerah sejak zaman Paku Buwono (PB) X. Baik itu pedagang gerabah, makanan, pakaian, dan lainnya.

Umumnya yang diperdagangkan masih berkaitan pula dengan filosofi Sekaten, seperti pecut (cambuk). Ini juga tidak lepas dari keyakinan masyarakat tentang makna yang terkandung di dalam barang-barang tersebut. Seperti halnya salah seorang penjual pecut, Daliman yang sudah puluhan tahun setia menjual pecut sebagai barang dagangan di Sekaten.

Seperti halnya para pendahulunya, warga Polanharjo, Klaten ini meyakini, bahwa pecut pernah digunakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga untuk mendidik santri-santrinya yang telah Baligh (dewasa) untuk menjalankan perintah dari Allah SWT. Apabila ada santri yang tidak taat maka hukumannya adalah dengan dicambuk.

“Menurut cerita, pecut dulu digunakan untuk mendidik santri Sunan Kalijaga agar taat akan peraturan agama,” ungkapnya, kemarin.

Namun, pada pasar malam Sekaten tahun ini, mainan yang mengingatkan makna religius dalam acara Sekaten ini justru tak begitu diminati pengunjung, utamanya anak-anak. “Mungkin akibat cuaca yang sering hujan sehingga omset pendapatan saya menjadi sedikit,” ungkap pria berusia 52 tahun tersebut.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge