0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Opera Ken Dedes Libatkan Ratusan Seniman

Taman Budaya Jawa Tengah (dok.timlo.net/rony)

Solo — Sejarah Kerajaan Singasari tidak dapat dilepaskan dengan sosok Ken Dedes. Istri Tunggul Ametung tersebut rela beralih hati dan memilih menikah dengan Ken Arok. Padahal saat itu dirinya sedang mengandung anak dari Tunggul Ametung.

Itulah sedikit gambaran tentang lakon yang bakal diangkat oleh Tri Ardhika Production bekerjasama dengan Swargalola Art and Culture Foundation yang akan dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Sabtu (2/2).

Lakon berjudul “Opera Ken Dedes, Wanita di Balik Tahta” tersebut terbilang unik. Pasalnya melibatkan ratusan seniman dan alumnus dari perguruan tinggi seni di Solo, Yogyakarta serta Jakarta.

Sutradara Opera Ken Dedes, Dewi Sulastri mengungkapkan, diangkatnya cerita Ken Dedes tersebut akan terlihat berbeda dengan biasanya. Biasanya, sosok Ken Dedes selalu tenggelam dengan kebesaran nama Ken Arok maupun Tunggul Ametung. Namun, dalam opera ini akan ditampilkan sosok Ken Dedes yang lebih dominan ketimbang suaminya.

“Persiapan yang kami lakukan sekitar tiga bulan. Dalam pertunjukannya kita benar-benar menggarap sosok Ken Dedes lebih dominan dibanding suaminya, baik Tunggul Ametung ataupun Ken Arok,” tuturnya saat ditemui dalam sesi latihan di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT), Kentingan, Jebres, Solo, Jumat (18/1).

“Hingga saat ini kami terus berlatih untuk memadukan antar gerak tari dan musik,” katanya lagi.

Sementara itu, komposer musik, Dedek Wahyudi mengaku dirinya menemui kesulitan dalam memadukan antara unsur-unsur musik tradisional dengan modern. Pasalnya, minimnya catatan sejarah tentang suara dan bunyi-bunyian yang ada di zaman tersebut tidak tersimpan dalam bentuk apapun. Sehingga dirinya berinisiatif untuk memadukan bunyi lonceng, gamelan, dan sejumlah alat musik tradisional, diramu dengan bunyi-bunyian adat Hindu maupun Budha.

“Salah satu cara menyiasati yaitu dengan menghadirkan bunyi-bunyian dengan corak Hindu atau Budha yang didominasi dengan lonceng, kenong, gong serta beberapa alat musik tradisional lainnya,” ungkapnya.

Rencananya, pertunjukan tersebut berdurasi sekitar 90 menit. Sejumlah pejabat juga akan diundang menyaksikan pagelaran kolosal ini.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge