0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Dandenpom IV/4 Surakarta, Letkol CPM Nashrun

Saksi Tragedi Bencana Tsunami

Dandenpom IV/4 Surakarta, Letkol CPM Nashrun (Dok.Timlo.net/ iwan Dwi Wahyu Anggara)

Solo — Gempa bumi tektonik berkekuatan 8,5 SR berpusat di Samudra Hindia 2,9 LU dan 95,6 BT di kedalaman 20 kilometer (di laut berjarak sekitar 149 kilometer selatan Kota Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam). Gempa yang kemudian disertai gelombang pasang (tsunami) yang menyapu beberapa wilayah lepas pantai di Indonesia (Aceh dan Sumatera Utara), Sri Langka, India, Bangladesh, Malaysia, Maladewa dan Thailand tersebut menyisakan kenangan tersendiri bagi Dandenpom IV/4 Surakarta Letkol CPM Nashrun.

Bagaimana tidak? Pria kelahiran Meulaboh 14 Mei 1966 ini menjadi saksi hidup kisah suram 9 tahun silam yang terjadi pada penghujung tahun 2004. Pasalnya, saat itu (terjadi bencana tsunami) dirinya menjabat sebagai Satgaskum Denpom Iskandar Muda Aceh di Meulaboh 2004-2005.

“Saat peristiwa itu saya sedang mandi, kemudian anak buah saya memberitahukan bahwa air laut naik, ya kebetulan markas saya hanya terletak beberapa ratus meter dari laut,” ujar pria yang mengawali karir militernya, 1992 di Puspomad Jakarta ini.

Menurutnya, peristiwa yang menewaskan 115.229 jiwa tersebut merupakan wujud dari kebesaran Allah SWT. “Menyaksikan peristiwa tersebut dengan mata kepala sendiri, saya menjadi sadar bahwa kita tidak ada apa – apanya dengan kebesaran Allah,” jelas suami dari Santi Fahmi ini seraya mengucap syukur atas kebesaran Allah SWT.

Pria penghobi tenis yang pernah bertugas di Pomdam 1/Bukit Barisan tahun 2005-2009 ini setelah peristiwa tersebut  kemudian membagi tugas kepada anggotanya untuk penanganan bencana.

“Anggota ada yang saya perintahkan untuk mencari logistik, evakuasi dan lain-lain,” terang mantan Dandempom Iskandar Muda Louksumawe Aceh tahun 2009-2012 ini.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge