0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kirab Turunnya Gamelan Sekaten

Ini Dia yang Bikin Pengunjung Sekaten Rebutan Janur

Rebutan janur saat prosesi ditabuhynya gamelan Sekaten di Masjid Agung Solo, Kamis (17/1. (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Beberapa orang masih percaya bahwa Janur (daun kelapa muda) yang digunakan sebagai  penghias di Bangsal Pagongan atau Pradangga di Komplek Halaman Masjid Agung Solo memiliki tuah tersendiri. Sehingga tidak heran ratusan orang memperebutkan janur yang menghiasi prosesi gelaran turunnya Gamelan Kembar Keraton Kasunanan Surakarta tersebut.

Tak terkecuali Suharni (47). Warga Desa  Wonorejo, Kecamatan Polokarto, Sukoharjo ini  rela berdesak-desakan dengan ratusan pengunjung lain yang berebut ingin mendapatkan janur tersebut. Dirinya percaya bahwa, keberkahan akan melimpah tatkala bisa mendapatkan Janur yang telah dipercayainya dapat mendatangkan rejeki.

“Setelah saya mendapatkan janur ini nanti akan saya pasang di atas pintu depan rumah saya. Sebagiannya lagi akan saya taruh di sawah tempat kami bekerja. Ya semoga bisa menjadi berkah buat kami tentunya,” ungkapnya sambil memperlihatkan janur tersebut, Kamis (17/1).

Di tempat terpisah, Pengageng Sasana Wilapa, KP Winarno Kusumo saat ditanyai wartawan mengatakan simbol janur melambangkan tentang jalan hidup yang diterangi dengan cahaya. Sehingga diharapkan orang yang mendapatkan Janur tersebut dapat diterangi jalannya dan selalu mendapatkan banyak berkah.

“Kalau menurut catatan keraton, digunakannya janur dalam prosesi ini melambangkan tentang penerangan jalan hidup, maka dapat diartikan Janur tersebut sebagai penerang jalan untuk kehidupan,” paparnya.

Disamping itu, banyak dijumpai perempuan yang sebagian besar sudah berusia setengah baya, mengunyah kinang, yakni ramuan daun sirih, jambe (pinang) dan injet (kapur). “Saya percaya bahwa dengan menginang di sebelah gamelan baik itu Kiai Guntur Madu maupun Kiai Guntur Sari akan membuat awet muda,” ujar Mulyani, warga Polokarto, Sukoharjo.

Ribuan orang menyemut mengikuti prosesi ditabuhnya dua gamelan peninggalan masa Kasultanan Demak, Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari di Halaman Komplek Masjid Agung Surakarta Kamis (17/1).

Acara yang dihelat guna melengkapi gelaran Sekaten memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut selalu menarik untuk diikuti. Sehingga tak heran ribuan masyarakat dari berbagai wilayah di Kota Surakarta selalu berdatangan menyaksikan acara tersebut.

Prosesi turunnya seperangkat gamelan itu diawali dengan diaraknya kedua gamelar dari dalam Keraton Solo dengan kawalan sejumlah punggawa dan prajurit Keraton. Lalu dilanjutkan menembus kedalam kerumunan masyarakat yang sangat antusias di Alun-alun utara. Setelah itu, kedua gamelan diletakkan di bangsal khusus, bernama Pagongan atau Bangsal Pradangga di Halaman Masjid Agung Solo.

Sekitar pukul 14.30 WIB, kedua gamelan tersebut dimainkan dan melantunkan gending-gending ciptaan Sunan Kalijaga.

Ketua Panitia Pelaksana Maleman Sekaten 2013, Kanjeng Raden Mas Haryo (KRMH) Satriyo Hadinagoro mengungkapkan, ritual tabuhan gamelan merupakan tradisi pembuka dalam acara Sekaten. Dalam ritual tersebut merupakan simbol pembersihan diri dengan lantunan gending-gending bernafaskan puja dan pujian kepada Tuhan.

“Seperti gending Rangkung dan Rambu ini kan ciptaan Sunan Kalijaga yang didalamnya terkandung makna puja dan pujian kepada penguasa alam dan isinya,” tuturnya ditemuai wartawan di sela-sela acara.

Rencananya, gamelan kembar tersebut akan dimainkan selama satu minggu hingga tanggal Kamis (24/1) mendatang atau yang biasa dikenal dengan Grebeg Mulud



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge