0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sempat Mampir di Balaikota Solo

Tagih Janji SBY, Ratusan Petani Geruduk Istana

Para petani asal Blitar saat mampir di Balaikota Solo, Kamis (17/1) (dok.timlo.net/dhefi nugroho)

Solo — Ratusan petani Blitar, Jawa Timur berjalan kaki berniat menggeruduk Istana Negara di Jakarta. Mereka menuntut agar pemerintah mengembalikan status lahan mereka yang hilang pasca konflik politik 1965.

Berangkat dari Blitar 7 hari lalu, mereka berjalan kaki mampir ke sejumlah kota, termasuk kota Solo. Kepada pejabat Pemkot Solo, para petani meminta restu agar perjalanan menuju Jakarta bisa tercapai dengan selamat.

Upaya mereka berangkat ke Istana didasarkan atas janji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sekitar tahun 2009 lalu yang akan memberikan 9,25 juta hektar lahan kepada rakyat miskin. Salah satunya, lahan 650 hektar lahan yang ada di Desa Ngadirenggo, Kecamatan Mlingi, Kabupaten Blitar.

“Dulu sebelum terjadi konflik politik tahun 1965, di daerah itu ada kelurahan yang bernama Sengon. Tapi pasca terjadi kekacauan politik, desa itu hilang dan lahan bekas Desa Sengon dijadikan kebun karet oleh perusahaan swasta,” kata koordinator Front Perjuangan Petani Mataraman (FPPM), Muhammad Trianto kepada wartawan, di Solo, Kamis (17/1).

Kala itu, Kelurahan Sengon dihuni oleh 560 Kepala Keluarga (KK). Mereka menuntut agar pemerintah mengembalikan status tanah tersebut dan diberikan kepada ahli waris. Mereka akan memberikan bukti pada Presiden berupa akta kelahiran leluhurnya sebagai bukti terkait keberadaan desa Sengon kala itu.

“Di sini data-datanya ada semua. Berupa surat lahir dan akta kelahiran, dimana tertulis bahwa memang lahir di kelurahan Sengon,” terangnya sambil menunjukkan setumpukan berkas akta kelahiran yang sudah dibendel.

Beberapa tahun lalu, Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) sudah datang ke lokasi dan menjanjikan akan mengurus lahan warga. Namun hingga saat ini belum ada realisasinya, bahkan tidak ada kejelasan status lahan tersebut.

Berjumlah 110 orang, mereka berjalan secara estafet secara bergiliran. “Kami bagi menjadi 4 shift yang akan berjalan dari satu kota ke kota lain sampai Jakarta,” tuturnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge