0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Rebutan Limbah PT SCE, Istri Bupati Klaten Diprotes

Seorang warga menunjukkan Surat Perintah Kerja (SPK) atas nama Sri Mulyani (Istri Bupati Klaten) (Dok.Timlo.net/Indratno Eprilianto)

Klaten – Karang Taruna Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Klaten mengeluhkan besaran kontribusi lingkungan mengenai pengeloaan limbah kering (sisa potongan kain) dari PT SC Enterprises (SCE). Dari kontribusi yang diminta sebesar 50 persen, hanya turun 13 persen dari total penjualan limbah kering.

Karang taruna menganggap bagian sebesar 13 persen atau Rp1,3 juta tersebut tidak adil. Sebab, selama tiga bulan terakhir karang taruna mendapatkan 50 persen dari total penjualan limbah kering.

Berdasarkan informasi, limbah kering yang dihasilkan rata-rata sebesar 14 ton atau jika dihitung dalam nilai rupiah menghasilkan uang sebesar Rp22 juta per bulan.

Ketua Karang Taruna Desa Bugisan, Prambanan, Oki Maulana, mengatakan pihaknya pernah menanyakan kontribusi pengelolaan limbah itu ke manajemen PT SCE. Namun dari pengakuan PT. SCE, pengelolaan limbah diserahkan berdasarkan Surat Perintah Kerja (SPK) atas nama Sri Mulyani, istri Bupati Klaten Sunarno.

“Setelah mendapatkan jawaban itu, kemudian kami mendatangi Bupati Klaten Sunarno dan istrinya Sri Mulyani ke rumah dinas untuk meminta kejelasan. Namun keduanya tidak mau menemui. Dari keterangan ajudan bupati, untuk urusan limbah perca PT SCE semua sudah diserahkan kepada Bambang Heru Nuryanto,” kata Oki kepada wartawan, Selasa (15/1).

Dari keterangan ajudan bupati itu, perwakilan karang taruna kemudian mencoba menghubungi Bambang untuk meminta kejelasan. Namun kembali mendapatkan jalan buntu.

“Kami sudah menghubungi yang bersangkutan (Bambang), tapi katanya sedang berada di luar kota. Katanya sedang berada di Tegal, kemudian saat dihubungi lagi mengaku sedang di Rembang,” ujar Brewok (45), perwakilan karang taruna lainnya.

Merasa dipermainkan, Karang Taruna Desa Bugisan, Prambanan mengancam akan melakukan unjuk rasa ke Rumah Dinas Bupati Klaten. Mereka mendesak kejelasan terkait pembagian penjualan limbah yang rata-rata mencapai Rp22 juta per bulan tersebut.

Kepala Desa Bugisan, Heru Santosa, mengatakan jika sesuai kesepakatan awal, pengelolaan limbah akan diberikan ke lingkungan pabrik. Untuk limbah basah diberikan kepada desa, sedangkan limbah kering untuk karang taruna.

“Sebelumnya pengelolaan limbah dipegang dari Semarang, namun demi keamanan, nama Sri Mulyani (istri Bupati Klaten) digunakan PT SCE dalam SPK pengelolaan limbah. Hal itu agar bisa didistribusikan ke lingkungan sekitar pabrik,” ujar Heru.

Dihubungi terpisah, pengurus limbah, Bambang Heru Nuryanto, mengatakan limbah dari PT. SCE terbagi menjadi dua, limbah komersial dan non kemersial. Untuk limbah komersial yakni limbah perca. Sedangkan non komersial diantaranya limbah basah, plastik dan kertas.

“Limbah perca dari PT SCE itu merupakan limbah komersil dan memang diperjualbelikan. Dalam hal ini, kami sebagai pembeli. Sedangkan untuk limbah basah, plastik dan kertas diberikan PT SCE kepada Desa Bugisan dan karang taruna secara gratis,” ujar Bambang.

Ia menjelaskan, mengenai pemberian 13 persen dari hasil pengelolaan limbah komersil yang diberikan ke karang taruna tersebut sudah merupakan sebuah kontribusi terhadap lingkungan pabrik.

“Kalau memang karang taruna masih minta tambahan lagi kontribusi, itu sangat lucu. Kan jelas semua jenis limbah (komersial dan non komersial) sudah dibagi rata antara pengusaha dengan desa,” jelas Bambang.

Menanggapi terkait SPK yang diatasnamakan Sri Mulyani (istri Bupati Klaten), Bambang mengatakan itu sudah merupakan kebijakan dari para atasan.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge