0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

UNS Kembangkan Alat Pengolah Limbah Batik

Alat pengolah air limba pewarna batik karya Fakultas Teknik UNS (dok.timlo.net/sri ningsih)

Solo — Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (FT UNS) Solo berhasil mengembangkan teknologi pengolahan air limbah sisa produksi pewarnaan batik. Hasil penelitian Unit Pengolahan Air Limbah dengan Reaktor Elektrokimia (UPAL-RE) ini menerapkan metode elektrokimia yang berfungsi untuk mengangkat zat pewarna batik.

Salah satu peneliti UPAL-RE, Ir Budi Utomo MT, menjelaskan, tujuan penelitian ini untuk memberikan solusi bagi home industry batik di daerah Solo. Selama ini warna batik sulit teregradasi, sehingga usai melakukan proses pewarnaan limbahnya langsung dibuang di sungai. ”Kita mencoba membuat teknologi yang bermanfaat untuk mengurangi limbah sungai,” jelasnya.

Budi Utama menjelaskan, untuk mengurai pewarna batik dibutuhkan satu bak yang dilengkapi dengan elektroit yang terbuat dari logam dan besi. Bentuknya sangat ringkas dan tidak memakan tempat. Uniknya teknologi ini bisa digunakan secara mobile sewaktu-waktu bisa dipindah ke tempat satu dan lainnya.

Proses regradasi air limbah sisa pewarnaan batik dimasukkan ke bak tersebut. proses pemisahan warna dilakukan dalam waktu 40 menit untuk 250 liter. Menggunakan sumber listrik yang berfungsi untuk membantu rekasi kimia yang dilewatkan dalam larutan elektrolit. ”Menggunakan sumber AC 220 voltyang diubah dengan menggunakan alat adaptor menjadi DC 15 volt, dengan kemampuan daya listrik 5000-7000 watt,”paparnya kepada wartawan di sela-sela pengoperasian alat di Gedung FT UNS, Kampus Kentingan, Jebres, Solo, Selasa (15/1).

Ditambahkan, dalam proses tersebut akan terjadi reaksi elektronik berupa gelembung-gelembung udara dari H2 dan O2. Gelembung yang muncul diatas permukaan ini disebut dengan istilah Flok. ”Proses pembentukan Flok ini akan bergerak keatas dan mengikat zat warna,” kata pria yang juga menjabat sebagai Kepala Lab Penyehatan.

Penemuan teknologi ini bukan menciptakan air menjadi jernih, namun mengurangi dugaan zat. Untuk zat warna batik alami efisiensinya mencapai 85 persen, sedangkan zat pewarna sintetis efisiensinya mencapai 75 persen. ”Ini proses pengolahan air bek bukan air bersih. Zat warna yang memisah nanti akan mengendap dan menjadi lempengan,” imbuhnya.

Endapan sisa proses, rencananya akan dilakukan penelitian lanjutan untuk difungsikan lagi sebagai bahan bangunan atau bahan keras yang bisa dipergunakan dalam kehidupan rumah tangga. Disamping itu penelitian yang dilakukan sejak tahun 2009 lalu ini, rencananya akan diterapkan di Kampoeng Batik Kauman, mengingat lahannya yang sempit dan kepadaatan penduduknya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge