0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Sutradari Film Rectoverso

Marcella Zalianty Memilih Selingkuh

Marcella Zalianty, sutradara Film Rectoverso (dok.timlo.net/irawan)

Solo — Lagu berjudul “Malaikat Juga Tahu” akan mewarnai Film Rectoverso. Lima gabungan film pendek yang dicomot dari karya sastra Dee ini berbeda dari cerita film biasanya.

Kisah yang diangkat dalam film ini nanti tidak berbeda dengan lagu yang telah dipopulerkan oleh Dewi Lestari. Film ini akan berkisah tentang penderita seorang autis, dengan pemeran utamanya Lukman Sardi. “Kami pilih Lukman Sardi karena video klipnya dari “Malaikat Juga Tahu” juga Lukman Sardi. Selain itu ia merupakan aktor yang luar biasa. Mengingat perannya yang sangat sulit,” ungkap Marcella Zalianty, sutradara film “Malaikat Juga Tahu”.

Menurutnya, cerita dalam film yang ia garap ini sangat sensitif dan menguras emosi, perasaan dan kasih sayang. Selain itu, dalam proses produksi film ini mengalami banyak kesulitan. Di antaranya panjangnya cerita yang tertulis dalam novel membuat Marcella sulit untuk memangkas. Pasalnya di setiap ceritanya terdapat detail dialog yang bermakna serta syarat akan kalimat sastra yang menyentuh emosi.

“Ketika memproduksi film ini yang menjadi beban. Biasanya penonton akan membandingkan bagus filmnya atau novelnya. Makanya ada yang memilih selingkuh dari novelnya dan ada yang tetap setia dari novel. Dan saya termasuk sutradara yang selingkuh dari novelnya,” ujar Marcella Zalianty kepada Timlo.net, di Auditorium UNS, Kampus Kentingan, Jebres, Solo, baru-baru ini.

Keputusan untuk meringkas cerita dikarenakan karakter dari cerita novel “Malaikat Juga Tahu” lebih cocok untuk diproduksi sebagai film panjang. Kesulitan yang lain adalah pendeknya waktu produksi yang hanya membutuhkan waktu selama tiga hari untuk satu film. Mengingat budgeting yang sangat minim, bagaimana seorang sutradara bisa memilih pemain yang sesuai dan berbakat.

Sementara itu, dalam penggarapan film, kakak kandung Olivia Zalianty ini ingin memvisualisasikan keadaan sebagaimana yang dituliskan di dalam novel. Seperti halnya saat adegan Lukman Sardi berlari kencang di tengah kepadatan lalulintas. ”Ini benar-benar tanpa kita setting, waktu itu kita hanya 4 kru turun di lokasi, dan kita benar-benar membiarkan Lukman berlari di tengah ramainya lalulintas. Agar ekspresi kepanikan benar-benar seperti nyata,” jelasnya.

Meski demikian ia mengaku sangat menikmati sebagai sutradara sekaligus produser film. Rasa lelah fisik, dan pikiran terbayar sudah setelah film garapannya rampung dan siap dieksibishi ke layar lebar. ”Lebih susah menjadi sutradara sekaligus merangkap sebagai produser. Kalau menjadi pemain kita hanya memikirkan satu karakter saja. Tapi kalau jadi sutradara dan produser kita memikirkan banyak karakter yang ada di dalam film,” pungkasnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge