0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Toshiaki Nakazaki dan Natsumi Sugimoto

Dari Belajar Tari hingga Menelusuri Jejak Wayang Beber

Dua seniman Jepang mempertahankan wayang beber. (Dok.Timlo.net/ Sri Ningsih)

Solo — Keberadaan Wayang beber dari tahun ke tahun kian memudar. Pamor kejayaannya tak seelok pada masanya. Bahkan jarang sekali kita temui wayang beber kuno yang berusia hingga 500 tahun lamanya.

Warisan leluhur yang konon merupakan wayang tertua di Indonesia ini, tinggal beberapa lembar jika ditelusuri jejak keberadaannya. Seperti yang dilakukan Toshiaki Nakazaki dan Natsumi Sugimoto, dua orang asal Jepang ini rela mengorbankan waktu, tenaga dan pikirannya untuk mencari keberadaan wayang beber.

Penelitian wayang beber yang mereka lakukan berawal dari ketertarikan ragam warisan budaya yang ada di Indonesia. Toshiaki yang akrab di sapa Aki ini mengatakan, awal kedatangannya ke Solo dimulai dari ketertarikannya mempelajari tarian tradisonal Jawa di Mangkunegaran. Sejak sebelum krisis moneter itulah, ia juga menyelami arti filosofi batik Solo.

”Sampai tiga tahun kemudian saya tertarik untuk mengkolaborasikan tari Kagura dengan tari tradisional Jawa. Dari situ saya dibantu beberapa teman seniman dari Solo, salah satu diantaranya pelukis wayang beber,” kenangnya.

Melihat lukisan wayang beber, pria 54 tahun ini teringat pada seni rupa asal Jepang di abad ke 15 lalu yakni Emakimono, sebuah album lukisan yang digulung layaknya wayang beber. Bahan pembuatan Emakimono sama seperti bahan pembuatan wayang beber yaitu dengan pohon Daluang. Dahulu hanya dikonsumsi untuk para raja saja. Namun sekarang sudah punah dan sudah dimuseumkan,” papar Natsumi yang akrab dengan sapaan Natsu ini.

Mengingat tak ingin kepunahan itu terjadi pada wayang beber, pada 2008 mereka mengawali penelusuran perajin kertas Daluang sebagai media pembuatan wayang beber di Bandung. Dari situ mereka temukan cara pembuatan kertas sebagai media lukis wayang beber. Dari Kota Kembang, keduanya mencoba menelusuri jejak wayang beber kuno di Pacitan. Ironisnya kondisi wayang beber berusia 350 hingga 500 tahun kondisinya rusak parah sehingga harus segera dilakukan konservasi, agar keaslian cerita dari wayang tersebut masih bisa dipertunjukkan ke masyarakat.

“Di Pacitan kita temukan 6 lembar satu cerita utuh yang perlu diselamatkan,” ujar Aki

Lain di Pacitan, lain pula di Gunung Kidul Yogyakarta. Di daerah perbukitan selatan pulau Jawa tersebut mereka menemukan 4 lembar satu cerita utuh tokoh Panji Remeng Mangunjaya dan 4 lembar pethilan-pethilan dari lakon pewayangan yang berbeda.

Mereka menilai pemerintah Indonesia kurang perhatian dengan benda pusaka warisan Indonesia. Jika tidak segera diselamatkan wayang beber akan tinggal kenangan. Dengan upaya penggalian data yang menghabiskan dana pribadi ini, diharapkan nantinya pemerintah Indonesia dan Jepang dapat bekerjasama melakukan proses konservasi. Pasalnya negara Jepang terkenal dengan pengolahan kertas dengan kualitas yang mampu bertahan ratusan tahun.

“Kami butuh dukungan legalitas dari pemerintah, seorang seniman dan peneliti hanya mampu menyumbangkan tenaga dan pikirannya. Akan tetapi ini akan berjalan jika ada dukungan dari pemerintah,” jelas Aki. Di sisi lain, untuk melakukan konservasi satu lembar wayang beber dibutuhkan dana ratusan juta. Semua ini merupakan upaya untuk melestarikan aset budaya Indonesia.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge