0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kolaborasi Sutradara Perempuan Dalam Sebuah Film

Makna di Balik Rectoverso

Artis pendukung dan sutradara film Rectoverso (Dok.Timlo.net/ Mint)

Solo –– Bagi penggemar novel karya Dewi Lestari mungkin tak  asing lagi dengan satu judul novelnya yang di-launching Agustus 2008 lalu, yakni Rectoverso.

Judul dari kata yang jarang didengar masyarakat itu membuat Marcella Zalianty tertarik untuk menyuguhkan ke media layar lebar. Jika diartikan secara harafiah Rectoverso ini berarti dua bagian yang saling melengkapi dan tak bisa dipisahkan, sedangkan dalam dunia cetak Rectoverso artinya bolak balik.

Marcella mengungkapkan, keputusannya memfilmkan karya tersebut lantaran novel ini berbeda dengan karyanya yang lain. Menurutnya dalam karya ini ada sisi persenyawaan ruang dengar, ruang baca dan menguras emosional serta menyentuh rasa bagi yang membacanya.

”Awalnya saya berpikir bagaimana dari beberapa film pendek bisa menjadi satu karya film, akhirnya Dee menawarkan novel itu. Setelah saya baca ternyata ini novel yang sangat cerdas,” katanya, saat mengisi workshop ngorek Rectoverso di Auditorium Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Sabtu (12/1).

Kecerdasan novel ini menurut istri Ananda Mikola ini, terletak pada persilangan antara seni sastra dan seni musik. Selain itu kata Rectoverso menurut Olga Lidya, salah seorang sutradara yang terlibat, diambil dari istilah percetakan yakni dua sisi mata uang yang berbeda.

Rectoverso itu artinya sama halnya dengan bolak balik, hal yang berbeda tapi sebenarnya memiliki kesatuan. Dan terlihat dalam novel ini, saya suka novel ini terutama Curhat Buat Sahabat, itu gue banget” imbuh Olga Lydia.

Dari sebelas cerita yang ada di dalam Rectoverso lima diantaranya diangkat menjadi film diantaranya Malaikat juga Tahu, Curhat buat Sahabat, Firasat, Hanya Isyarat, dan Cicak di Dinding. Kelima cerita tersebut uniknya digarap oleh lima perempuan sebagai sutradaranya. Pasalnya ini berkaitan dengan cerita yang film tersebut yang menceritakan spirit mengedepankan karakter perempuan yang kuat seperti halnya karakter dalam novel Rectoverso.

“Saya bersyukur selain menjadi bacaan favorit saya, buku ini layak untuk dinikmati lebih banyak publik melalui medium seni dan budaya. Semoga film ini menjadi jalan pembuka agar karya sastra Indonesia modern seperti Rectoverso bisa lebih diapresiasi oleh banyak orang,” pungkasnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge