0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Mengembalikan Kejayaan Lokananta

Gedung Lokananta (dok.timlo.net)

Solo — Nama Lokananta sempat melambung setelah lagu Terang Bulan ramai-ramai diklaim. Sebelumnya orang tak pernah mengetahui nama perusahaan rekaman musik label pertama di Indonesia yang didirikan pada tahun 1956 tersebut. Bangunan tua itu masih berdiri kokoh di Jl Jenderal Ahmad Yani No 379 Solo. Namun sangat disayangkan kini nasib perusahaan penyimpan arsip sejarah itu tak terdengar lagi gaungnya.

Memasuki ruang penyimpanan koleksi audio membuat hati berdecak kagum betapa besar aset sejarah yang tersimpan. Sampai saat ini bangunan tua itu masih menyimpan rekaman lagu nasional dan daerah, hingga fakta-fakta sejarah penting seperti pidato presiden pertama Indonesia Soekarno.

Semua masih tersimpan dalam format piringan hitam yang berjumlah 40 ribu keping. Selain itu 833 keping piringan hitam lagu kebangsaan Indonesia Raya versi tiga stanza yang sempat menjadi polemik juga ada di sana. Termasuk rekaman lagu Rasa Sayange asal Maluku yang pernah dibagikan kepada kontingen Asia Games pada 15 Agustus 1962 lalu dan juga diklaim oleh negara tetangga Malaysia beberapa waktu lalu.

Ribuan bukti sejarah yang tersimpan dalam keping piringan hitam itu memang masih ada di sana, tapi ironisnya kondisi barang bernilai sejarah itu terlihat tak terawat dan merana. Ruang penyimpanannya pun jauh dari kriteria layaknya perpustakaan audio.

Minimnya dana membuat pengelolaan dan perawatan benda koleksi tersebut hanya ala kadarnya. Bubuk kopi dan kapur barus adalah barang yang selalu ada di ruang koleksi. Menurut salah satu pegawai, hal itu sangat berguna untuk menghindarkan dari kutu atau serangga lainnya yang dapat mengakibatkan kerusakan benda koleksi.

Melihat kondisi Lokananta secara langsung, memantik perasaan perihatin dan rasa penasaran mengapa aset yang memiliki nilai historis ini dibiarkan tak terawat dan lepas dari perhatian publik. Padahal Lokananta sangat potensial untuk dijadikan pusat pendidikan sejarah bagi anak-anak sekolah, yang tidak hanya dapat dipelajari melalui buku yang tercetak saja. Namun sejarah bisa dipelajari melalui audio, yang tersimpan membisu di Lokananta.

Kepala Cabang Lokananta Pendi Heriyadi mengaku, kondisi Lokananta seperti itu dikarenakan minimnya anggaran yang tersedia sehingga tak bisa mengubah Lokananta kembali pada masa kejayaan. “Pemasukan kami hanya Rp 35 juta perbulan, namun jumlah itu pun masih saja defisit. Makanya perawatannya pun sangat sederhana. Kami terpaksa menyimpan koleksi pita, piringan hitam dan kaset secara bertumpuk. Padahal harus ada jedanya agar tidak lembang. Selain itu ruangnya pun kurang representatif,” ujarnya, baru-baru ini.

Untuk tetap bernafas, salah satu cara yang dilakukan adalah mengubah format piringan hitam menjadi keping DVD ataupun VCD yang dapat diedarkan di pasaran. Pendi menuturkan, pamor Lokananta mulai meredup seiring dengan perkembangan teknologi rekaman. Pada tahun 1972 Lokananta berhenti memproduksi piringan hitam dan digantikan dengan kaset, disisi lain dalam waktu yang bersamaan industri rekaman komersial di negara ini pun bermunculan.

Hal ini sangat berpengaruh prospek usaha Lokananta, “Keberadaan perusahaan rekaman ini awalnya sebagai kebutuhan bahan siaran RRI, tapi karena hal tersebut RRI tidak bisa sepenuhnya tergantung pada Lokananta lagi,” paparnya.

Pada masa keemasannya yakni pada periode 1960-1980-an Lokananta memproduksi ribuan gending yang sangat digemari masyarakat Solo. Seperti keroncong, langgam, gendhing-gendhing, wayang, ketoprak, dan lagu-lagu daerah yang memiliki kualitas tinggi. Pada saat itu industri rekaman belum cukup berkembang di Indonesia. Kemudian pada era 1980-an Lokananta tidak lagi bisa mengikuti perkembangan zaman. Dan tahun 1997 hingga 2000 Lokananta benar-benar terpuruk. Akhirnya tahun 2001 PNRI mengambilalih perusahaan ini.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge