0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bersyukur RSBI Bubar, Pedagang Gelar Tumpengan

Sejumlah pedagang, tukang becak dan warga menggelar syukuran di pasar darurat Sukoharjo menyusul dibubarkannya RSBI sesuai keputusn MK (dok.timlo.net/sahid b sutanto)

Sukoharjo — Dibubarkannya RSBI (Rintisan Sekolah Betaraf Internasional) sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), ternyata memberikan angin segar bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Seperti terjadi di Sukoharjo, sejumlah warga menggelar tumpengan sebagai wujud syukur pembubaran RSBI.

Dengan membawa poster bertuliskan ungkapan syukur atas pembubaran RSBI, warga yang terdiri dari pedagang pasar, sopir angkot, tukang becak dan sejumlah pelajar bertirakat di komplek pasar darurat Sukoharjo Kota, Sabtu (12/1).

Mereka bersyukur dengan pembubaran RSBI, lantaran menurut mereka RSBI merupakan gudang diskriminasi bagi murid-murid dari kalangan warga miskin. Selain itu, sekolah RSBI dinilai rawan korupsi.

“Kami sangat bersyukur dengan dibubarkannya RSBI. Sehingga tidak ada lagi perbedaan antara murid kaya dan miskin. Semua sama yakni menuntut ilmu untuk meraih prestasi. Juga tidak ada lagi korupsi,” ujar Samir, seorang tukang becak yang biasa mangkal di Pasar Sukoharjo.

Bimo Kokor Widjanarko, penggagas aksi, mengaku bersyukur atas dibubarkannya RSBI. Menurutnya, meski ada kuota murid dari kalangan warga miskin sebesar 20 persen, namun pada kenyataannya RSBI ada jurang pemisah di antara miskin dan kaya.

“Kami sangat senang dengan dibubarkannya RSBI. Kesenangan itu kami lampiaskan dengan tumpengan bersama pedagang, tukang becak, dan sopir angkot di Pasar Sukoharjo. Dengan tidak ada RSBI, tidak ada lagi jurang pemisah antara Si miskin dan Si kaya. Menuntut ilmu dapat berlangsung sehat sesuai prestasi. Yang paling penting keleluasaan korupsi semakin kecil,” tegas Kokor.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge