0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Bupati Sragen: RSBI Seperti Sekolah Zaman Belanda

Bupati Sragen Agus Fatchur Rahman (dok.timlo.net/agung)

Sragen – Dinas Pendidikan (Disdik) Sragen mendukung keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membubarkan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Namun demikian Disdik akan menunggu petunjuk pelaksana (Juklak) dan petunjuk tekhnis (Juknis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Demikian dikatakan Sekretaris Disdik Sragen, Joko Saryono, ketika ditemui wartawan, Rabu (9/1).

“Kita akan menunggu dulu Juklak dan Juknis dari Kemendikbut untuk sosialisasi,” kata Joko di ruang kerjanya.

Menurutnya, di Kabupaten Sragen saat ini terdapat 6 RSBI, yaitu SBI Gemolong, SBI Kroyo, SMPN 1 Sragen, SMPN 5 Sragen, SMAN 1 dan SMKN 2 Sragen.

Sambil menunggu petunjuk dari Kemendikbud, kata Joko, dalam waktu dekat ini pihaknya akan mengumpulkan para kepala sekolah di enam RSBI tersebut. Dia mengaku belum mempunyai gambaran mengenai kelanjutan dan sistem pendidikan yang akan diterapkan terhadap keenam sekolah itu.

“Nanti mau dijadikan apa? Solusinya saja kita juga masih menunggu,” ujarnya.

Sementara itu, ketika dihubungi, Bupati Sragen Agus Fatchur Rahman mendukung penuh keputusan MK terkait pembubaran RSBI. Dia menilai keberadaan RSBI dan SBI menimbulkan diskriminasi antar warga negara.

Bahkan Bupati Agus menganalogikan RSBI itu seperti sekolah pada zaman Belanda, di mana yang bisa sekolah di sana adalah orang-orang yang mampu. Sedangkan orang yang kurang mampu tidak bisa bersekolah di RSBI.

“Saya sering menyampaikan keprihatinan terkait kebijakan RSBI dan SBI. Selalu saya sampaikan RSBI-SBI itu mendiskriminasikan warga negara,” kata Bupati Agus melalui pesan singkatnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge