0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Isu Flu Burung, Harga Itik Anjlok, Telur Naik

Peternak itik petelur sedang mengemas hasil produksi unggasnya (Dok.Timlo.net/Indratno Eprilianto)

Klaten – Menyusul adanya ratusan itik yang mati secara mendadak akibat virus flu burung (avian influensa) di Klaten kini berimbas pada gejolak harga telur dan unggas di wilayah ini. Harga itik kini turun hingga Rp10.000 per ekor. Sedangkan harga telur di tingkat penetas mulai naik Rp 50 per butir.

Itik usia produktif dalam kondisi normal semula diharga Rp40.000 per ekor, namun kini turun menjadi Rp30.000 sampai Rp35.000 per ekor. Kondisi ini terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Berbeda dengan anak itik, harganya relatif masih stabil, yakni Rp3.000 per ekor untuk anak itik betina, dan Rp1.500 per ekor anak itik jantan.

Sementara untuk harga telur itik kini berangsur naik. Dalam sepekan terakhir, harga telur itik di tingkat penetas sudah mencapai Rp1.300 per butir, sebelumnya Rp1.250 per butir.

Sudirman (38), peternak itik di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, menuturkan naiknya harga telur itik terjadi karena menurunnya produktivitas itik petelur yang berakibat stok telur di pasaran berkurang. Salah satu pemicunya yakni isu flu burung.

“Banyak peternak itik yang bangkrut dan menjual murah unggasnya karena takut terserang flu burung yang saat ini kabarnya sudah sampai Klaten. Berkurangnya peternak inilah yang menjadi faktor naiknya harga telur itik,” ujar Sudirman saat ditemui Timlo.net di kediamannya, Rabu (9/1).

Menurutnya, harga telur itik akan terus merangkak naik seiring dengan berkurangnya peternak itik. Kenaikan harga telur itik ditingkat penetas itu, kata dia, tentunya akan diikuti dengan kenaikan harga ditingkat tengkulak.

“Saya menjual telur itik seharga Rp1.300 per butir, dan nanti kalau sudah sampai dipasaran harga bisa mencapai Rp1.400 – Rp1.500 per butir,” ujar Sudirman.

Sementara itu, Yatno (35) peternak itik asal Trucuk, mengaku terpaksa menjual murah unggas miliknya yang diduga terjangkit flu burung. Kepada pengepul ia menjual itiknya seharga Rp15.000 per ekor.

“Ada beberapa itik yang kondisinya tidak sehat. Dari pada mati dan rugi mending saya jual saja dengan harga murah,” tuturnya.

Atas kondisi itu, para peternak itik berharap ada perhatian serius dari pemerintah. Salah satunya memberikan bantuan pinjaman lunak sebagai modal pemulihan usaha ternak mereka.

Sebelumnya dikabarkan, petugas dari Dinas Pertanian (Dispertan) Klaten melakukan penyemprotan desinfektan terhadap kandang itik milik warga Dukuh Brongkol, Desa Jatipuro, Kecamatan Trucuk, Jumat (4/1) lalu.

Penyemprotan itu dilakukan menyusul laporan adanya 400 ekor itik di daerah tersebut yang mati secara mendadak akibat terjangkit virus flu burung.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge