0271-626499 redaksi.timlo@gmail.com
Timlo.net

Pedagang Asongan Terpaksa Harus Mengalah

Pedagang asongan melakukan aksi protes di stasiun Jebres, Solo (timlo.net - dhefi)

Solo – Pedagang asongan dalam kereta api terpaksa harus menerima keputusan untuk tidak berjualan di dalam kereta api. Keputusan itu didapat dari hasil mediasi antara pedagang asongan kereta api dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daops VI Yogyakarta yang dilakukan di Mapolsek Jebres.

Sesuai dengan UU No. 23/2007 tentang Perkeretaapian, area di dalam gerbong kereta harus steril dari pedagang asongan, baik dalam kereta eksekutif, bisnis maupun ekonomi. Imbas dari peraturan tersebut, pedagang asongan yang selama ini berjualan di dalam gerbong kereta api menjadi dilarang.

Namun, saat ini, kepada pedagang asongan, sementara waktu mereka diperbolehkan berjualan di area stasiun dengan syarat tertentu. Diantaranya, KAI Daops VI akan menerbitkan ID Card bagi pedagang asongan yang sudah tergabung dalam paguyuban. Nantinya, hanya yang memiliki ID Card saja yang diperbolehkan berjualan di dalam area stasiun. “Pakai ID Card, dan tidak boleh naik di atas kereta api, baik dalam keadaan berhenti atau berjalan,” kata Advisor Kamtib PT KAI Daops VI Yogyakarta, M Muchtarom kepada wartawan usai melakukan mediasi, Senin (7/1).

Kebijakan tersebut diberlakukan seiring dengan langkah KAI yang memberikan pelayanan terbaik pada pelanggan KA. Termasuk, adanya sejumlah tuntutan dari penumpang KA yang menginginkan kondisi nyaman saat dalam perjalanan.

PT KAI juga menjanjikan pada pedagang asongan yang sudah terdata untuk diberikan modal berbunga ringan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dijalankan oleh BUMN tersebut. Modal yang dimaksud berupa modal pinjaman untuk usaha bagi eks pedagang asongan di luar wilayah lingkungan stasiun. Hanya, Muchtarom belum bisa menjanjikan kapan modal berbunga ringan tersebut digulirkan.

Lain halnya dengan keinginan dari para pedagang asongan. Awalnya, pedagang tetap bersikukuh minta kepada KAI agar diperbolehkan kembali berjualan di dalam kereta. Karena, semenjak tidak diperblehkan berjualan di dalam kereta, omzet harian yang mereka terima menjadi turun drastis.

“Sekarang ini untuk bisa bertahan saja susah. Kami tidak diperbolehkan berjualan di dalam kereta, padahal kita tahu kereta berhenti di stasiun Cuma beberapa menit saja. Itupun dagangan kami belum tentu bisa laku,” tutur salah satu perwakilan pedagang asongan, Riyanto saat mediasi. Selain itu, program berupa pemberian modal pinjaman dengan bunga ringan yang dijanjikan oleh PT KAI belum jelas realisasinya.

Proses mediasi yang cukup alot tersebut berangsur mencair setelah Kapolsek Jebres, Kompol Rudy Hartono, selaku pimpinan mediasi memberikan arahan pada pedagang asongan untuk menerima keputusan dari PT KAI.

“Kami rasa upaya yang dikemukakan oleh PT KAI merupakan win-win solution, keputusan terbaik buat pedagang asongan maupun KAI sendiri. Jadi saya rasa tidak ada alasan untuk menolak keputusan itu,” ungkap Kompol Rudy. Ia berharap pedagang asongan mematuhi keputusan yang sudah ditetapkan oleh KAI dan menjalankan keputusan tersebut.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge