0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Kisah Pelacur dan Sang Presiden Terpotong

Salah satu adegan lakon 'Pelacur dan Sang Presiden', Sabtu (5/1) di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo. (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo —  Tidak mudah bagi seseorang untuk memahami kehidupan manusia lainnya dalam realita saat ini. Apalagi insan tersebut tidak atau bahkan belum pernah mengalaminya.

Adalah ‘Pelacur dan Sang Presiden’, salah satu Pementasan Repertoar Tiga Naskah dari kelompok Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNS yang menyoroti tentang fakta sosial masyarakat.

Banyak dari masyarakat yang memandang sebelah mata tentang profesi seorang pelacur tanpa melihat latar belakang pelacur tersebut terjun ke lembah nista. Naskah karya Ratna Sarumpaet tersebut seolah ingin memberikan kritik sosial dalam kehidupan melalui kisah seorang pelacur bernama Jamila.

Jamila terpaksa melakukan pekerjaan terlarang karena keinginan dari ayahnya. Masa muda kelam seperti pernah diperkosa oleh sosok Hendra dilalui dengan berat oleh Jamila. Bahkan dalam kondisi terpaksa, dia sampai membunuh seorang menteri yang telah menidurinya sebelumnya. Tak ayal, pelacur ini kemudian dipenjara dan dihukum mati oleh pihak yang berwajib karena melakukan kesalahan yang berat.

Menurut Sutradara Pelacur dan Sang Presiden, Indri Kusuma, terkadang pelacur dikecam sebagai sampah masyarakat maupun perusak moral tanpa melihat alasan kenapa dia bisa terjebak ke lembah kenistaan.

“Saya ingin memberi gambaran, bahwa dibalik gelap kehidupannya mestinya kita juga harus tahu alasan dibelakangnya, namun banyak orang yang tidak mau tahu akan hal tersebut,” paparnya ditemui di Teater Arena TBJT, Kentingan, Jebres, Sabtu (5/1).

Dirinya menilai, masyarakat serta penyelenggara negara tidak mau membuka matanya untuk melihat yang menjadi masalah mendasar pada pelacuran tersebut, sehingga semakin membuat bangsa ini tidak kunjung menemukan jalan keluar untuk mengatasinya.

“Seharusnya penyelenggara negara lebih tanggap terhadap masalah sosial yang terjadi di negeri ini, seperti pelacuran, pendidikan, kemiskinan dan sebagainya yang menggiring warganya memasuki lembah penuh kenistaan tersebut,” terangnya.

“Dalam pementasan ini kami mengadaptasi beberapa naskah yang disesuaikan dengan durasi pementasan, sehingga ada beberapa reportoar yang terpaksa kami hilangkan untuk lebih menyingkat waktu,” imbuhnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge