0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Banjir Landa 2 Kecamatan di Solo, 600 KK Ngungsi

Banjir di salah satu kampung di Solo (Dok.Timlo.net/ Achmad Khalik)

Solo — Sedikitnya 600 Kepala Keluarga (KK) di dua kecamatan di Kota Solo mengevakuasi diri dari luapan Sungai Bengawan Solo. Hunian mereka di sepanjang garis sempadan sungai terendam banjir setinggi 1 meter.

Informasi yang dihimpun Timlo.net, tenda-tenda darurat telah didirikan di tanggul Sungai Bengawan Solo di sepanjang 2 kilometer lebih, mulai Jembatan Mojo di Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon sampai Kampung Beton, Kelurahan Sewu, Kecamatan Jebres.

Korban banjir telah mengevakuasi diri seiring meningkatnya debit air di sungai terpanjang di Pulau Jawa itu sejak Sabtu (5/1) malam. Keesokan harinya, titik pengungsian makin disibukkan dengan aktivitas pengungsian berupa evakuasi lanjutan barang-barang milik warga. Rutinitas masyarakat lumpuh di lokasi terkena banjir.

Hingga berita ini diturunkan, tidak dilaporkan korban jiwa dalam peristiwa ini. Pantauan terakhir menyebutkan banjir berangsur surut, meski muka Sungai Bengawan Solo sempat mencapai ketinggian 9,7 meter pada Minggu dinihari. Sedangkan pukul 09.00 WIB, Tinggi Muka Air (TMA) di Jurug menunjukkan 9,04 meter. Dalam level tersebut, kondisi Bengawan Solo siaga 3.

“Seluruh warga Ngepung (Kelurahan Sangkrah) khususnya RW X pukul 03.00 WIB sudah mengevakuasi secara mandiri di tenda seadanya di tanggul. Ketinggian air di dalam tanggul mencapai semeter,” kata Joko Susilo, anggota Linmas Kecamatan Pasar Kliwon Minggu (6/1).

Sementara itu, menurut kesaksian yang disampaikan Ketua RT 02 RW IX Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Parwadi, menuturkan bahwa air mulai masuk Minggu (5/1) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Luapan air mencapai puncaknya pukul 03.00 WIB dengan ketinggian sepinggang orang dewasa.

“Puncaknya tadi sekitar jam 01.00 dinihari, warga mulai berteriak-teriak banjir datang, lalu menuju ketempat yang lebih tinggi. Sekitar 1 meter kalau tadi malam, tapi beruntung sekarang sudah surut,” ungkapnya.

Pemukiman warga tersebut berjarak 100 meter dari bibir sungai Bengawan Solo.
Sekitar pukul 09.00 WIB, air sudah sedikit surut. Tampak beberapa warga mulai membersihkan rumah mereka. Serta beberapa warga gotong-royong membersihkan jalan dari lapisan lumpur sungai yang terbawa banjir.

“Kami sudah siaga, barang-barang kami pindahkan ke tempat yang lebih tinggi supaya gak terkena banjir. Begitu air datang, kami langsung mengungsi ke atas,” tutur beberapa warga.

Ditanyai terpisah, Pimpinan Perum Jasa Tirta, Winarno, selaku pengelola kawasan sepanjang Sungai Bengawan Solo. Menuturkan bahwa pintu air di Waduk Gajah Mungkur hari ini, Minggu (6/1) belum akan dibuka. Mengingat kondisi di hilir sekitar jembatan Jurug masih berstatus waspada, dan kondisi debit air Waduk Gajah Mungkur masih diambang normal.

“Pintu belum akan kami buka, belum ada pengurangan debit air Waduk Gajah Mungkur. Mengingat kondisi di hilir yang tidak memungkinkan. Di wilayah Jurug ketinggian air berada di status waspada. Lebih bawah lagi, di Bojonegoro dan Lamongan sudah pasti akan meluap,” tuturnya saat dihubungi wartawan.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge