0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Ketika Landung Membaca Sindhunata

Alengka Muram, Cerita Kebimbangan Kumbakarna

Solo – Landung Simatupang penyair dan aktor kenamaan Indonesia, hadirkan Alengka Muram di Balai Soedjatmoko Solo, Sabtu (18/12). Karya teater tersebut adalah sebuah penafsiran Landung dari sebuah karya Sastra yang dibuat oleh GP Sindhunata pada tahun 1983.

Alengka Muram sendiri berangkat dari sebuah cerita tentang perjuangan bela Negara berdasar sebuah kecintaan tanah air bukan karena kebenaran yang ada. Mengisahkan tentang Kumbakarna yang dipaksa oleh sang kakak Rahwana untuk berperang melawan Rama dengan alasan merebut kembali Sinta. Namun Kumbakarna tahu bahwa tindakan sang kakak itu salah.

Usaha menampik ajakan berperang sang kakak pun kandas dikala ia harus membela Negara walaupun Negara itu sendiri dalam posisi salah.

Right or wrong still my country, ungkapan seperti itulah yang menggambarkan Kumbakarna. Ia sendiri tidak bisa masuk surga karena ia salah. Kumbakarna tahu kebenarannya namun demi membela Negaranya  ia harus menerima ajakan berperang,” papar Landung kepada Timlo.net di akhir perhelatan Alengka MuramLandung Membaca Sindhunata, di Balai Soedjatmoko, Sabtu (18/12).

Apa yang dilakukan Landung malam itu adalah sebuah penafsiran dari Anak Bajang Menggiring Angin karya GP Sindhunata. “Karya sastra ini sangat bagus dimana memaparkan sebuah pertentangan nilai. Dalam hal ini adalah nilai kebenaran dan kesetiaan,” ujarnya lagi.

Penggarapan seni teater tutur ini sendiri berangkat dari keinginan Landung untuk bisa mengkomunikasikan apa yang disampaikan dalam karya Sindhunata. “Ini sastra yang bagus sayang jika tidak bisa dipahami. Untuk saya mencoba mengkaji dan melakukan penafsiran lagi dari karya Sindhunata yang juga berangkat dari penafsiran kisah espos Ramayana serta Sastra Jendra dengan menggunakan medium yang konteks dengan jaman sekarang,” pungkasnya.



Komentar Anda

loading...
KEMBALI KE ATAS badge