0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Berjuang Ditengah Kerasnya Jaman

Diusia Senja, Semangat Kerjanya Tetap Tinggi

Klaten – Jam menunjukkan arah pukul 03:00 dini hari, Wongso (75), terbangun dari tidurnya. Dengan rasa kantuk yang masih tersisa ia bergegas menuju kamar mandi. Secangkir teh dan sebatang rokok lintingan kegemarannya menjadi teman untuk menjamu pagi yang dingin.

Sebujur bambu tiga meteran ia raih untuk memikul perkakas dagangannya berupa kerajinan rotan dari daerah asalnya di Desa Trangsan, Gawok, Sukoharjo. Setelah pamitan dengan sang cucu, Wongso pun beranjak untuk berjuang melawan kerasnya kehidupan demi memenuhi kebutuhan ekonominya.

Dipinggiran desa, ia berhenti sejenak. Tampak dari kejauhan sorotan lampu truk menyilaukan pandangan tuanya. Sejurus kemudian truk itu berhenti tepat didepannya. Bergegas Wongso menaikkan dagangannya berupa alat perlengkapan bayi.

Satu persatu ayunan bayi, kursi bayi yang kesemuanya berbahan dasar rotan ia naikkan. Setelah beres, ia pun naik bersanding dengan sang sopir truk dan kenek. Ya..truk pasir milik tetangga itu sudah menjadi langganan Wongso menuju Klaten untuk mengais rejeki.

“Saat berangkat berdagang saya selalu menunggu truk itu lewat sehabis Subuh,” ujarnya saat berbincang-bincang dengan Timlo.net, diseputaran Alun-alun Klaten tempat ia mangkal.

Wongso adalah bapak satu anak dengan lima cucu dan tiga buyut. Ia merupakan sosok pejuang yang tak kenal menyerah. Sudah puluhan tahun ia bergelut dengan berdagang keliling.

Meski usianya tua namun semangat kerjanya tetap tinggi. Sejak tahun 1945 ia mengaku sudah keliling dari kota satu ke kota lain untuk berdagang. “Seperti Jogjakarta, Magelang, Solo dan Klaten sampai sekarang,” tuturnya.

Setiap kali berangkat, biasanya ia membawa 10 alat perlengkapan bayi berbagai jenis dari tempat produksi milik tetangganya. Ia hanya mengandalkan komisi jika barangnya laku. Untuk ayunan bayi, harga yang ditawarkan rata-rata Rp Rp 80 ribu hingga Rp 100 ribu, sedangkan kursi bayi berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu.

Dari sekian barang itu, tidak kesemuanya langsung habis terjual. Ia harus menunggu hingga dua mingguan agar dagangannya laku sebelum ia pulang mengambil dagangannya yang baru. Bahkan, ia rela tidur diemperan toko melawan dinginnya angin malam. Untuk menahan hembusan angin ia harus berlindung dibalik dagangannya yang dijajar.

Menjelang fajar tiba, seperti biasa Wongso kembali ketempat mangkalnya dengan memikul dagangannya. Meski agak tertatih-tatih, satu persatu kerajinan rotan itu ia tata dengan rapi dengan harapan ada pembeli yang datang. Kerasnya hidup tak menyulutkan perjuangan Wongso untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.  



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge