0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Flu Burung Serang Klaten, Kandang Itik Disemprot Massal

Petugas tengah menyemprot itik, guna mencegah merebaknya serangan virus Flu Burung (dok.timlo.net/indratno eprilianto)

Klaten — Petugas Dinas Pertanian (Dispertan) Klaten melakukan penyemprotan desinfektan terhadap kandang itik milik warga Dukuh Brongkol, Desa Jatipuro, Kecamatan Trucuk, Jumat (4/1). Penyemprotan itu dilakukan menyusul merebaknya virus flu burung (avian influensa) di daerah tersebut.

Kepala Bidang Peternakan Dispertan Klaten, Sri Muryani, mengatakan kasus flu burung telah menyerang ratusan itik milik Wiwit Suyatno (35) warga Dukuh Brongkol, Desa Jatipuro sejak dua pekan terakhir. Ratusan itik mati mendadak.

“Dari laporan yang kami terima sudah ada 400 ekor itik yang mati mendadak di Dukuh Brongkol, Desa Jatipuro. Dari hasil tes, memang itik-itik itu positif flu burung,” ujar Sri Muryani kepada wartawan di sela penyemprotan.

Atas temuan itu, pihaknya sudah meminta kepada peternak agar itik-itik yang masih tersisa untuk segera dipisahkan kandangnya dengan ayam. Upaya itu agar serangan flu burung tidak menular.

“Setelah mendapatkan laporan kami langsung menerjunkan petugas untuk melakukan penyemprotan desinfektan di kandang itik yang terserang flu burung tersebut,” ujar Sri Muryani.

Sri Muryani mengatakan, sebenarnya ada dua lokasi yang dilaporkan warga mengenai serangan flu burung. Selain di Desa Jatipuro, ada juga di Desa Pesu, Kecamatan Wedi. Hanya saja, kata dia, pihaknya belum berani memastikan itik mati di Desa Pesu merupakan akibat flu burung.

“Untuk itik yang mati mendadak di Desa Pesu, Wedi tidak bisa dites karena sudah tidak ada bangkainya. Jadi kami tidak berani menyimpulkan apakah itu serangan flu burung atau bukan,” kata Sri Muryani.

Peternak itik, Wiwit Suyatno (35), warga Dukuh Brongkol, Desa Jatipuro, Trucuk, mengatakan ratusan itik miliknya mati mendadak sejak dua pekan lalu. Dari 500 ekor itik, 400 ekor lainnya terserang flu burung.

“Awalnya hanya mati dua sampai tiga ekor. Namun terus bertambah hingga 10 ekor per hari. Rata-rata itik yang mati mendadak berusia sekitar satu bulan sampai 1,5 bulan. Saat ini tinggal 100 ekor yang masih tersisa,” ujar Wiwit.

Dari kejadian kasus flu burung itu, Dispertan Klaten mengimbau kepada para peternak untuk segera melapor ke petugas jika menemui ternaknya mengalami gejala flu burung, seperti mata buram dengan mengeluarkan lendir.

Dispertan juga meminta peternak untuk lebih jeli dalam pengembangan ternak itik. Peternak diminta untuk tidak membeli itik dari luar negeri. Sebab ada indikasi penularan flu burung itu dari ternak asal luar daerah yang masuk ke Klaten.

“Kami imbau kepada peternak jangan beli itik dari luar negeri atau luar daerah Klaten. Kalau ingin ternak kami imbau beli ternak lokal saja,” imbuh Sri Muryani.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge