0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Gula Fruktosa Sebabkan Kegemukan?

Buah durian (Dok.Timlo.net/ Nanang Rahardian)

Timlo.net — Para ahli menyebut ada sebuah penelitian kecil yang membuktikan bahwa fruktosa bisa berperan untuk kebiasaan makan berlebih.

Hal ini dikarenakan cara otak kita memperlakukan gula. Para peneliti menggunakan tes imagin untuk menunjukkan bahwa fruktosa, gula yang biasanya terdapat dalam buah-buahan dan madu, bisa memicu perubahan otak yang menyebabkan kita makan berlebih.

Setelah Anda meminum sebuah minuman yang mengandung fruktosa, otak tidak menerima peringatan bahwa perut kita terisi. Kondisi ini berbeda saat kita makan atau minum glukosa, jenis gula yang terdapat dalam tanaman.

Memang penelitian ini adalah penelitian kecil yang tidak membuktikan bila fruktosa dan sirup jagung tinggi fruktosa bisa menimbulkan kegemukan. Tapi para peneliti berkata bahwa hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa gula ini mungkin berperan. Gula fruktosa biasanya ditemukan juga dalam makanan dan minuman kemasan.

Untuk keperluan penelitian ini, para peneliti menggunakan scan MRI (magnetic resonance imaging) untuk melacak aliran darah dari otak 20 partisipan muda dengan berat badan normal sebelum dan setelah mereka meminum minuman yang mengandung glukosa atau fruktosa dalam dua sesi yang terpisah beberapa minggu.

Hasil scan menunjukkan bahwa meminum glukosa “mematikan atau menekan aktivitas di wilayah-wilayah otak yang penting dalam mengatur keinginan akan makanan,” kata salah satu pemimpin dalam penelitian ini, ahli endoktrinologi Robert Sherwin. Dengan fruktosa, “kami tidak melihat perubahan-perubahan itu,” katanya. “Sebagai hasilnya, keinginan untuk makan akan tetap ada- keinginan tersebut tidak dimatikan.”

Yang menyakinkan, kata Jonathan Purnell, seorang ahli endokrinologi dari Universitas Oregon Health & Science, hasil-hasil dari proses scan itu menunjukkan seberapa lapar para partisipan, sama seperti hasil scan sebelum pada sejumlah hewan demikian dilansir dari USA Today.

Penelitian ini dimuat dalam Journal of the American Medical Association.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge