0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Hari Terakhir Temu Koreografer 2010

UNESA Sajikan “Panji Reni”

Solo – Tari “Panji Reni” yang bercerita tentang pengorbanan Dewi Anggraini untuk mempersatukan Panji Inukartopati dengan Dewi Sekartaji dikemas apik dalam sebuah repertoar tari yang dipertontonkan dalam gelaran Temu Koreografer 2010, Kamis malam di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, (25/11).

Karya garapan Jajuk Dwi Sasanadjati, M.Hum ini dimainkan oleh belasan penari yang merupakan mahasiswa dan mahasiswi Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Garapan tari tradisi yang mengambil cerita dari pertunjukan Wayang Topeng Malang merupakan fragmen tari tanpa ada dialog. “Ini berangkat dari cerita “Panji Reni” yang berasal dari Wayang Topeng Malang yang kita garap dalam sebuah bentuk fragmen tari,” papar dosen Sendratasik UNESA tersebut kepada Timlo.net, Kamis (25/11).

Karya yang dipertontonkan dihadapan audience di Teater Arena tersebut merupakan olahan tari dengan bentuk pengembangan gerak namun tetap dengan kekuatan tradisi yang ada didalamnya. “Walaupun ada olahannya namun ini semua berangkat dari sebuah tradisi yang sedikit kita lakukan modifikasi,” paparnya.

“Panji Reni” sendiri mengisahkan tentang pengorbanan Dewi Anggraini untuk mempersatukan Panji Inukartopati dengan Dewi Sekartaji. Cinta segitiga antara Panji Inukartopati, Dewi Anggraini dan Dewi Sekartaji, berujung tragis. Manakala Dewi Anggraini memilih mengorbankan dirinya untuk membuktikan kesetiaannya terhadap Panji Inukartopati maupun kepada negaranya.

Dewi Anggraeni sendiri memilih mati lewat keris Patih Udapati Kertolo yang ketika itu diutus oleh Ibunda Panji Inukartopati yang sejak awal tidak menyetujui hubungan mereka, karena ia telah menjodohkan anaknya dengan Dewi Sekartaji.

Cerita ini berakhir bahagia, karena akhirnya roh dari Dewi Anggraini masuk kedalam tubuh Dewi Sekartaji. Sehingga Panji Inukartopati tetap bisa merasakan kedua cinta dewi tersebut.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge