0271-626499 redaksi[at]timlo.net
Timlo.net

Hari Ke-2 Temu Koreografer 2010

“Ibu Bumi” Keinginan dan Tekad Merubah Keadaan

Solo – Bima resah melihat kondisi Negara Astina yang mulai dipenuhi dengan kekacauan. Korupsi, kekerasan dan segala bentuk carut marut terjadi di negeri tersebut. Dari situ Bima mencoba membuka lahan dan ingin mendirikan Negara baru yang bebas dari segala kesemrawutan yang ada.

Namun upaya Bima tersebut mendapatkan jegalan dari sang patih Astina yang licik, yakni Sengkuni. Dengan segala cara, ia mencoba menggagalkan upaya Bima. Mulai dari menghasut para binatang untuk menyerang Bima hingga mendatangkan roh-roh untuk mencobai Bima.

Tekad kuat Bima disertai dengan dorongan dan restu sang bunda Dewi Kunthi ternyata mampu mematahkan segala upaya licik Sengkuni. Alhasil Negara Amarta yang bebas dari korupsi, kekerasan dan kesemrawutan pun berdiri.

Penggalan cerita diatas merupakan garapan dari cerita Mahabharata dengan lakon “Babad Alas Wanamarta” yang dimainkan oleh Agung Kusumo Widagdo, dkk dalam Temu Koreografer 2010. Sebuah repertoar karya Agung Kusumo Widagdo bersama composer Dedek Wahyudi di beri tajuk “Ibu Bumi”.

Menurut Agung Kusumo Widagdo, repertoar yang khusus digarap untuk Temu Koreografer 2010 tersebut adalah tafsir bebas tentang penggambaran cita-cita luhur untuk sesuatu yang lebih baik. “Sesuai dengan tema, kami juga berangkat tradisi. Kisah Babad Alas Wanamarta ini sangat kontekstual dengan kondisi saat ini. Lalu Bima sebagai tokoh utama adalah secerca asa untuk merubah segala kesemrawutan,” papar Agung kepada Timlo.net, (24/11).

“Ibu Bumi” disini juga menggambarkan betapa hebatnya Dewi Kunthi ibunda Bima yang dengan luar biasa terus memberikan dukungan dan doa restu kepada Bima, lanjutnya.

Dalam repertoarnya, Agung banyak menggunakan gerakan tradisi yang ia olah dengan gaya dan style yang ia miliki. “Tentu saja yang tadi dimainkan adalah tradisi yang sudah dikembangkan. Namun unsur tradisi masih cukup kentara di dalamnya,” lanjutnya lagi.

Sementara itu Dedek Wahyudi, composer musik mengatakan dalam repertoar bertajuk “Ibu Bumi” ia juga berangkat dari tradisi yakni gamelan. Namun dalam prakteknya ia mengkombinasikan dengan musik keroncong. “Ini irama gamelan yang dimainkan keroncong. Di sisi lain ada beberapa tambahan alat musik lain seperti gitar, bass, dan juga saxophone,” pungkasnya.



Komentar Anda

Berita Terkait

loading...
KEMBALI KE ATAS badge